***

<FONT FACE="georgia" color="WHITE"> ...selamat membaca...semoga bermanfaat...

Monday, 3 October 2011

KUALITAS AIR DALAM BUDIDAYA LAUT

Oleh
Kasijan Romimohtarto1)
1. PENDAHULUAN
Budidaya laut merupakan salah satu usaha perikanan dengan cara pengembangan sumber-dayanya dalam area terbatas baik di alam terbuka maupun tertutup. Tempat untuk budidaya laut, demikian pula untuk air tawar, harus mempunyai fasilitas alami tertentu, terutama persediaan air yang sangat cukup, dengan suhu, salinitas dan kesuburan yang sesuai (BARDACH et al. 1972 ). Dalam hal ini penting diperhatikan pula bahwa pengusaha budidaya menjalankan pengawasan melalui pemilikan, hak sewa menyewa atau cara lain untuk menjalankan pengawasan. Di Laut sistem demikian menimbulkan masalah, karena orang masih mempunyai pandangan bahwa laut adalah milik kita bersama.
Sementara itu masalah penyediaan air bagi budidaya laut tidak sulit dan bahkan tidak ada. Hal ini tentunya berbeda dengan budidaya air tawar dan air payau yang dalam banyak hal harus memperhatikan tersedianya sumber air seperti sungai, danau, atau pasang surut yang mengatur secara alami keluar-masuknya air dari laut. Namun pertama-tama sangat diperlukan adalah kualitas air yang cocok bagi kehidupan normal yang dibudidaya. HICKLING ( 1962 ) menyebutkan misalnya bahwa dalam kolam ikan, air yang bersifat netral atau basa nampak lebih produktif daripada air bersifat asam. Air laut normal selalu bersifat basa dan kondisi demikian diperlukan bagi kehidupan biota laut. Faktor-faktor lain yang mensifati kualitas air laut antaranya adalah salinitas, suhu dan kandungan oksigen.
Dalam era pembangunan Indonesia sekarang ini, idustri berkembang dengan pesat sementara penduduk pun bertambah dengan pesat pula. Perkembangan industri telah membawa kita ke kehidupan yang lebih baik daripada di masa-masa silam. Sementara itu pertambahan penduduk memberikan persediaan tenaga kerja yang melimpah. Namun dibalik itu dampak negatif sudah mulai terasa di beberapa sektor kegiatan, diantaranya adalah budidaya laut. Industri di darat maupun di pantai telah menghasilkan limbah yang tak terkendalikan sehingga menghasilkan pencemaran air yang sebagian terbawa ke laut. Demikian pula pertambahan penduduk telah pula menimbulkan pemukiman-pemukiman yang tak sehat, baik di kota maupun di pantai. Dari kegiatan penduduk yang demikian dihasilkan pula limbah rumah tangga yang ikut mencemari laut melalui sungai-sungai atau langsung.
Dari keadaan di atas maka persyaratan kualitas air untuk budidaya laut ataupun budidaya air tawar yang dimasa silam tidak melibatkan banyak parameter, sekarang harus dimasukkan pula berbagai jenis bahan pencemar sebagai pertimbangan.
Makalah ini disajikan untuk memberikan gambaran tentang kualitas air laut yang diperlukan untuk suatu usaha budidaya laut, agar nantinya tidak timbul masalah yang menghambat usaha budidaya laut dan mempengaruhi mutu hasil yang dikehendaki.
1) Lembaga Oseanologi Nasional – LIPI.
BEBERAPA SIFAT OSEANOGRAFI PERAIRAN SELAT SUNDA
Untuk memberi gambaran singkat tentang kondisi perairan terdekat dimana workshop ini diselenggarakan, berikut disajikan catatan tentang beberapa sifat perairan Selat Sunda sebagai hasil dari beberapa penelitian selama periode 1927 sampai 1982 ( BIROWO, 1983).
Sifat Angin
Sifat cuaca di Selat Sunda, seperti halnya di perairan Indonesia umumnya dipengaruhi oleh angin musim. Pada musim tenggara (April – September) angin berhembus ke arah barat laut dan pada musim barat laut ( November – Maret ) angin berhembus ke arah tenggara mengakibatkan terjadi perubahan-perubahan cuaca yang agak teratur di Selat Sunda.
Arah dan kecepatan angin bulanan singkatnya sebagai berikut :
April dan Mei – angin berhembus kebanyakan dari selatan dengan kecepatan 4 sampai 10 knot.
Juni, Juli dan Agustus – angin umumnya berhembus dari timur dan tenggara dengan kecepatan 4 sampai 10 knot. Pengamatan cuaca di Bakauheni pada Juni dan Juli menunjukkan arah angin dari timur, selatan dan tenggara dengan kecepatan 7 knot.
September, Oktober dan Nopember – angin sering berhembus dari utara dan timur dengan kecepatan 4 sampai 16 knot. Catatan dari Anyer pada 1979 menunjukkan angin bertiup kebanyakan dari timur dan tenggara pada Oktober dan Nopember dengan kecepatan 3 – 10 knot.
Desember, Januari dan Pebruari – Berturut-turut angin lebih banyak berhembus dari barat-baratdaya, barat dan berat – barat laut dengan kecepatan 10 sampai 20 knot.
Keadaan Ombak.
Keadaan laut di Selat Sunda pada umumnya agak tenang atau sedang. Selama musim barat, antara bulan Oktober dan Maret keadaan laut lebih berombak daripada bulan-bulan yang lain. Dalam periode ini tinggi ombak dapat mencapai 1,5 sampai 2 m. Pada musim timur, antara April dan September ombak biasanya lebih kecil, antara 0,5 – 1 m. Keadaan laut yang paling tenang biasanya terjadi bulan-bulan April, Mei dan Juni dengan tinggi gelombang kurang daripada 0,5 m.
Pasang surut dan arus.
Sifat pasang -surut Selat Sunda adalah campuran, condong ke harian ganda. Dua kali pasang dan dua kali surut terjadi dalam satu hari bulan secara tak teratur. Perbedaan pasang surut biasanya lebih daripada 1 m.
Arus di Selat Sunda kadang-kadang kuat, akan tetapi pertukaran air antara Samudera Hindia dan laut Jawa lemah, ini disebabkan oleh keadaan mulut selat bagian utara yang sempit dan dangkal. Arah aliran massa air di selat merupakan percampuran antara arus pasang – surut dan arus musim. Arahnya pada sebagian besar waktu setahun adalah barat daya, yakni menuju ke Samudera Hindia, tetapi dalam bulan Nopember terjadi arah yang berlawanan yakni barat laut. WYRTKI ( 1961 ) menjelaskan terjadinya arus yang hampir selalu ke barat daya disebabkan oleh adanya gradien permukaan laut ke arah Selat. Hal ini ditunjukkan oleh adanya hubungan yang erat antara aliran mendatar dan perbedaan permukaan laut antara Tanjung Priok di pantai utara Jawa dan Pelabuhan Ratu di pantai selatan Jawa. Kecepatan arus yang pernah diukur di selat bagian utara dalam bulan-bulan Nopember dan Desember, di permukaan dan di dekat dasar menunjukkan kekuatan yang hampir sama. Dilapisan permukaan 0.95 m/detik dan di dekat dasar, 0,83 m/detik. Pengukuran di lokasi lain dari bagian selat ini menunjukkan kecepatan maksimum pada permukaan laut 1,89 m/detik dan pada lapisan dekat dasar 1.78 m/ detik dengan arah yang hampir sama yankni timur laut. Pengaruh arus pasang – surut di selat ini lebih kuat daripada arus angin dan arus musim.
Suhu dan salinitas
Suhu dan lapisan di permukaan laut di Selat Sunda, seperti di perairan Indonesia lainnya tidak banyak bervariasi dari bulan ke bulan. Ia berkisar antara 28,0°C dan 29,5°C.Tinggi rendahnya suhu lapisan permukaan ini berkaitan dengan interaksi antara udara dan air laut. Pada musim barat dan timur, angin kencang menyebabkan penguapan yang melebihi kemampuan penyinaran, berakibat turunnya suhu. Udara basah yang terjadi pada musim barat memperkuat pendinginan. Pada musim peralihan penyinaran melebihi penguapan, berakibat pemanasan air permukaan laut. Sampai kedalaman 100 m, suhu homogen.
Salinitas permukaan di selat bagian utara biasanya lebih rendah daripada di bagian selatan. Salinitas Selat Sunda bervariasi dari 31,5 sampai 33,5 ‰. Rendahnya salinitas permukaan di selat bagian utara disebabkan oleh masuknya massa air dari laut Jawa ke selat hampir sepanjang tahun.
Salinitas dekat dasar di selat bagian selatan juga lebih tinggi daripada di bagian utara. Biasanya di bagian selatan lebih tinggi dari 34 ‰ dan di bagian utara lebih rendah dari 33,0 ‰.
PENGARUH FAKTOR FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP BUDIDAYA LAUT
Budidaya laut adalah budidaya biota laut yang hidup dalam air laut. Ini berarti bahwa air laut merupakan medium dimana biota laut tersebut hidup, tumbuh dan berbiak lebih baik daripada rekan-rekannya yang tidak dibudidayakan.
Cara mengusahakan budidaya laut secara mudahnya dapat dibagi menjadi budidaya ekstensif, yakni pemeliharaan biota laut di suatu perairan yang cukup laus dengan padat peneberan yang rendah. Biota yang dibudidayakan dapat disediakan dari suatu sumber (pembenihan, pengumpulan dari alam) atau dari populasi alami yang masuk ke sistem dalam bentuk burayak atau juwana. Mereka biasanya hidup dari makanan alami. Contohnya adalah budidaya kerang, tiram dan rumput laut. Budidaya intensif dilakukan dengan padat penebaran tinggi dalam suatu lingkungan sempit seperti kurungan atau, kolam pembenihan dengan sistem air mengalir untuk memperoleh volume air sebesar-besarnya guna persediaan zat asam dan pengangkutan kotoran. Binatang yang dibudidaya dapat diberi makanan buatan dalam bentuk pelet. Seluruh sistem harus secara teliti diawasi dan dipantau. Contoh yang sudah mencapai teknologi canggih adalah pembenihan ikan trout dan salmon di Amerika Serikat dan di Eropa. Di Taiwan terdapat juga kategori ini, yakni budidaya bandeng.
Dalam kedua jenis budidaya tersebut air laut merupakan kebutuhan pokok, baik kuantitas maupun kualitas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas air akan mempengaruhi pula keberhasilan budidaya.
Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas air dan kehidupan biota laut yang dibudidaya adalah seperti di bawah ini.
S u h u
Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum van’t Hoff kenaikan suhu 10°C melipat duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja proses metabolisme akan menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan.
Hubungan antara suhu dengan waktu inkubasi telur bandeng telah ditunjukkan CHING-MING ( 1984 ) dalam pembenihan bandeng di Taiwan. Gambar 1 menunjukkan bahwa makin tinggi suhu air penetasan, makin cepat waktu inkubasi. Pada suhu 29°C waktu inkubasi 27 – 32 jam dan pada suhu 31,50 C waktu inkubasi 20,5 – 22 jam.
Di perairan tropis perbedaan/variasi suhu air laut sepanjang tahun tidak besar; suhu permukaan laut Nusantara berkisar antara 27° dan 32°C. Kisaran suhu ini adalah normal untuk kehidupan biota laut di perairan Indonesia. Suhu alami tertinggi di perairan tropis berada dekat ambang atas penyebab kematian biota laut. Oleh karena itu peningkatan suhu yang kecil saja dari alami dapat menimbulkan kematian atau paling tidak gangguan fisiologis biota laut. GESAMP (1984) menyatakan bahwa kisaran suhu di daerah tropis sedemikian rupa sehingga banyak organisme hidup dekat dengan batas suhu tertinggi.
Gambar 1. Hubungan antara suhu air dan waktu inkubasi (LIN) 1984 menurut CHING-MING (1984).
Telaah tentang pengaruh suhu pada biota tropis menunjukkan bahwa suhu sekitar 35° adalah kritis atau mematikan. Tabel 1 menunjukkan berbagai pengaruh kenaikan suhu pada beberapa biota laut tropis. Suhu kritis tertinggi adalah 40,5°C yang menyebabkan kematian mendadak bintang mengular (Ophiuroid) di Florida. Ikan-ikan laut di Teluk Thailand baru mati pada suhu 34–37,5°C.
Tabel 1. Pengaruh suhu terhadap beberapa biota laut tropis
Jenis biota Lokasi Δ t °C Dampak Suhu Kritis
Bakau Florida Selatan 5° Fotosintesa bersih bertahan -
Rhizopora mangle Teluk Guayanila
Puerto Roco 8 – 10° Gagal memulihkan kembali -
Bakau - - - 37 – 38°
Thalassia Lamun Florida
Teluk Tampa
Florida -
4 – 5° -
Kerusakan ladang 33 – 34°
-
Thalassia Florida 4 – 5° Kerusakan parah sampai penggundulan ladang
Algae Turkey po-nt, florida - Kematian 34°
Algae California 7 – 10° Pergeseran komposisi komunitas sampai eliminasi
Caulerpa racemosa Guam 2° Respirasi lipat dua 34°
Algae La parguera, Puerto Rico 6° Kematian 35°
Algae Teluk Tampa, Florida 3° Berlawanan dengan tingkat suksesi permulaan dengan gang-gang hijau-biru dominan
Acartia tonsa Teluk Biscayne
Selatan Florida - - 34 – 37°
Copepoda Florida - Kematian massal 30°
Binatang mengular Teluk Biscayne, Florida - Kematian segera 37,5 – 40,5°
Echinometra mathaei Guam - Perkembangan dan fertilisasi terhambat 34–36°
Linkya Guam - Metabolisme terganggu 36°
Acanthaster planci - Kematian permulaan 33°
Makrobentos Puerto Rico 5 – 10° Penghapusan -
Komunitas akar bakau Teluk Guayanilla
Puerto Rico - Jumlah spesies berkurang
Karang Hindia Barat - - 36°
Karang Kahe Point, Hawaii 3 – 4° Kehilangan pigmen zoo zanthella dan mortalitas tinggi -
Ocyrus chrysurus - Kematian 33,5 – 34°
Ikan laut Teluk Thailand - Kematian permulaan 34 – 37,5°
(Sumber dari GESAMP 1984. Referans dihilangkan)
Salinitas
Keanekaragaman salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik.
Jenis-jenis biota perenang ditakdirkan untuk mempunyai hampir semua jaringan-jaringan lunak yang berat jenisnya mendekati berat jenis air laut biasa, sedangkan jenis-jenis, yang hidup di dasar laut (bentos) mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada air laut di atasnya.
Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Kalau sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penurunan salinitas yang nyata.
Cara-cara osmoregulasi meliputi perlindungan luar dari perairan sekitarnya, perlindungan membran sel, mekanisme ekskresi untuk membuang kelebihan air tawar dan sel dari badan. Kemampuan untuk menghadapi fluktuasi yang berasal dari salinitas terdapat pada kelompok-kelompok bintang beraneka ragam dari protozoa sampai ikan.
Biota estuarina biasanya mempunyai toleransi terhadap variasi salinitas yang besar (eury-halin). Contohnya Chanos chanos (bandeng), Mugil (belanak) dan Tilapia (mujair). Salinitas yang tak sesuai dapat menggagalkan pembiakan dan menghambat pertumbuhan. Kerang hijau, kerang darah dan tiram adalah jenis-jenis kerang yang hidup di daerah estuaria. Variasi salinitas alami estuaria di Indonesia berkisar antara 15–32‰. Hasil penelitian kerang hijau memberikan petunjuk bahwa salinitas yang 15‰ dapat menyebabkan kematian kerang tersebut. Keberhasilan benih kerang darah untuk menempel pada kolektor tergantung pada salinitas. Pada salinitas 18‰, keberhasilan menempel lebih tinggi. Tiram dapat hidup dalam perairan dengan salinitas yang lebih rendah daripada salinitas untuk kerang hijau dan kerang darah. Kerapu dan beronang dapat hidup di daerah estuaria maupun daerah terumbu karang. Ikan kakap hidup diperairan pantai dan muara sungai. Rumput laut hidup di daerah terumbu karang. Pada umumnya salinitas alami perairan terumbu karang di Indonesia 31‰.
Kekeruhan (siltasi)
Siltasi tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa.
Kadar oksigen terlarut
O2 terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun beberapa binatang dapat hidup tanpa O2 (anaerobik) sama sekali; lainnya dapat hidup dalam keadaan anaerobik hanya sebentar tetapi memerlukan penyediaan O2 yang berlimpah setiap kali. Kebanyakan dapat hidup dalam keadaan kandungan O2 yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2 sama sekali. Sumber O2 terlarut dari perairan adalah udara di atasnya, proses fotosintese dan glycogen dari binatang itu sendiri. Air yang tak ber – O2 selalu jarang terdapat disamudera. O2 dihasilkan oleh proses fotosintesa dari binatang dan tumbuh-tumbuhan dan diperlukan bagi pernafasan.
Menurunnya kadar O2 terlarut dapat mengurangi efisiensi pengambilan O2 oleh biota laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan biota tersebut untuk hidup normal dalam ling-kungannya. Kadar O2 terlarut di perairan Indonesia berkisar antara 4,5 dan 7.0 ppm.
pH (derajat keasaman)
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5. Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
Unsur hara
Sebagian besar unsur-unsur kimiawi yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan dan binatang terdapat dalam air laut dalam jumlah lebih dari cukup, sehingga kekurangannya tak perlu dipertimbangkan sebagai faktor ekologi. Dalam beberapa hal kepekatan unsur “trace” menjadi penting, tapi ini terjadi sangat jarang sekali dibanding dengan di darat.
Fosfat dan nitrat dalam kepekatan bagaimanapun selalu dalam rasio yang tetap. 15 at. N : 1 at P. Rasio ini cenderung tetap dalam fito dan zooplankton. Hanya dalam keadaan tertentu rasio dalam air berubah.
PO4 : P bisa oerada dalam bentuk senyawa organik maupun anorganik. Keduanya dalam bentuk butiran dan larutan. Dalam jaringan hidup terutama dalam bentuk senyawa organik dan dilepaskan kembali ke air sebagai kotoran maupun bangkai dalam bentuk butiran atau larutan. Umumnya kekurangan fosfat dalam laut mempengaruhi fotosintesa dan pertumbuhan sama besarnya.
NO3 : Samudera mendapatkan dari udara bukan saja N tetapi juga NO3. Seperti halnya PO4, pertumbuhan dan fotosintesa dari tumbuh-tumbuhan laut (fitoplankton dan alga bentik) dibatasi oleh kepekatan NO3 dalam air.
Selain unsur-unsur hara tersebut, diatom mengambil sejumlah besar Si dari laut dan kekurangan kandungan Si dapat menjadi faktor pembatas di perairan tertentu.
Faktor-faktor lingkungan lain yang penting diperhatikan adalah penyinaran matahari, gelombang dan arus.
Penyinaran
Sinar mempunyai arti penting dalam hubungannya dengan beraneka gejala, termasuk penglihatan, fotosintesa, pemanasan dan perusakan aktinik. Mata adalah sensitip terhadap kekuatan sinar yang berbeda-beda. Binatang-binatang mangsa mudah mengetahui pemangsanya pada terang bulan daripada gelap bulan.
Dalam hubungannya dengan fotosintesis, intensitas dan panjang gelombang sinar sangat penting. Alga hijau Enteromorpha kecepatan fotosintesanya tinggi pada sinar merah, sangat kurang pada sinar biru, dan sangat rendah pada sinar hijau. Bentuk-bentuk yang hidup di laut dalam cenderung untuk menggunakan sinar-sinar dengan spaktrum hijau dan biru. Karena sifat sinar yang masuk air, spektrum merah lebih banyak diserap air dalamperjalanan ke bawah air.
Pada kebanyakan tanaman, sinar matahari penuh terlalu kuat dan bahkan mungkin letal. Untuk fotosintesa optimum sinar adalah kurang dari sinar matahari penuh.
Pengaruh panas sinar matahari terhadap lingkungannya hanya penting di mintakat litoral (pasang-surut). Kerena air dalam bagian merah dari spektrum cepat diserap. Tapi masih belum diketahui apakah pengaruh sinar di tempat dangkal ini akibat kenaikan suhu atau pengeringan.
Sinar punya pengaruh buruk juga yakni violet dan ultra ungu di spektrum. Diantara reaksi fotokimia yang menyangkut pengaruh ini adalah pemecahan dengan cepat vitamin-vitamin-tertentu dengan adanya sinar. Sinar ultra violet cepat sekali diserap oleh air sehingga menjadi tidak penting.
Gelombang
Secara ekologis gelombang paling penting di mintakat pasang surut. Di bagian yang agak dalam pengaruhnya mengurang sampai ke dasar, dan di perairan oseanik ia mempengaruhi pertukaran udara dan agak dalam.
Gelombang ditimbulkan oleh angin, pasang-surut dan kadang-kadang oleh gempa bumi dan gunung meletus (dinamakan tsunami). Gelombang mempunyai sifat penghancur. Biota yang hidup di mintakat pasang surut harus mempunyai daya tahan terhadap pukulan gelombang. Gelombang dengan mudah menjebol alga-alga dari substratanya. Ia diduga juga mengubah bentuk karang-karang pembentuk terumbu. Gelombang mencampur gas atmosfir ke dalam permukaan air sehingga memulai proses pertukaran gas.
A r u s
Arus mempunyai pengaruh positip maupun negatip terhadap kehidupan biota perairan. Arus dapat mengakibatkan ausnya jaringan-jaringan jasad hidup yang tumbuh di daerah itu dan partikel-partikel dalam suspensi dapat menghasilkan pengikisan. Di perairan dengan dasar lumpur, arus dapat mengaduk endapan lumpur-lumpuran sehingga mengakibatkan kekeruhan air dan mematikan binatang. Juga kekeruhan yang diakibatkan bisa mengurangi penetrasi sinar matahari, dan karenanya mengurangi aktivitas fotosintesa. Manfaat dari arus bagi banyak biota adalah menyangkut penambahan makanan bagi biota-biota tersebut dan pembuangan kotoran-kotorannya. Untuk algae kekurangan zat-zat kimia dan CO2 dapat dipenuhi. Sedangkan bagi binatang CO2 dan produk-produk sisa dapat disingkirkan dan O2 tetap tersedia. Arus juga memainkan peranan penting bagi penyebaran plankton, baik holoplankton maupun meroplankton. Terutama bagi golongan terakhir yang terdiri dari telur-telur dan burayak-burayak avertebrata dasar dan ikan-ikan. Mereka mempunyai kesempatan menghindari persaingan makanan dengan induk-induknya terutama yang hidup menempel seperti teritip (Belanus spp) dan kerang hijau (My tilus viridis).
Pada kira-kira 1½ dekade yang lalu faktor-faktor lingkungan yang diuraikan di atas cukup untuk diperhatikan dalam menilai kualitas air untuk budidaya laut. Akan tetapi dengan cepatnya pertambahan penduduk dan digalakkannya industrialisasi di negara kita, maka dalam sepuluh tahun terakhir ini telah timbul pencemaran air dan pencemaran laut, karena masuknya limbah industri dan limbah rumah tangga yang tak terkendalikan ke dalam lingkungan akuatik.
Sekarang dalam menilai kualitas air untuk budidaya tidak cukup hanya memperhatikan faktor-faktor yang telah diuraikan. Bahan-bahan pencemar yang dapat menurunkan kualitas air harus diperhatikan. Bahan-bahan pencemar tersebut yang dapat menurunkan kualitas air dan membahayakan kehidupan biota laut diterangkan di bawah ini yang dihimpun dari KLH (1984).
Bakteri
Kehadiran bakteri Escherichia coli ada kaitannya dengan kehadiran bakteri dan virus patogen. Bakteri dan virus patogen dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh biota, terutama pada saluran pencernaannya. Berbeda dengan jenis-jenis ikan, jenis-jenis kerang yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan adalah seluruh bagian tubuhnya yang lunak, termasuk saluran pencernaannya. Oleh karena itu kemungkinan penularan bakteri dan virus patogen melalui jenis-jenis kerang lebih besar dibandingkan melalui ikan. Dengan demikian jumlah E. coli dalam air untuk budidaya kerang lebih diperhatikan dari pada dalam air untuk budidaya ikan dan rumput laut yang tidak dimakan mentah. Escherichia coli ( E. coli ) yang kadarnya 1000/100 ml dapat memberi petunjuk adanya bakteri patogen.
Senyawa – Senyawa fenol
Limbah senyawa fenol dalam perairan dapat merugikan karena :
Menimbulkan keracunan pada ikan dan biota yang menjadi makanannya.
Menguras oksigen dalam air. Hal ini disebabkan penguraian senyawa-senyawa fenol oleh mikro – organisme membutuhkan jumlah oksigen yang banyak.
Menimbulkan rasa tak sedap pada daging ikan.
Senyawa-senyawa fenol yang terdapat dalam air laut berasal dari limbah rumah tangga, industri dan pertanian. Senyawa-senyawa fenol pada kadar yang tinggi dapat bersifat toksik, tetapi masalah utama yang dapat ditimbulkan adalah rasa dan bau. Air yang mengandung fenol = 0,001 ppm tidak mempunyai rasa dan bau, tetapi fenol pada kadar tersebut sangat sukar untuk dideteksi.
Pestisida
Semua pestisida bersifat racun bagi manusia maupun organisme hidup lainnya. Sebagian pestisida bersifat persisten, misalnya organofosfat dan karbamat. Pestisida yang bersifat persisten umumnya lebih berbahaya, karena sukar untuk dikeluarkan setelah berada didalam jaringan tubuh. Gejala keracunan organoklorin umumnya sama, hanya berbeda dalam tingkat keparahan. Dalam kasus-kasus ringan, dapat menimbulkan sakit kepala, pusing-pusing, iritasi yang berlebihan (hyperirritability) dan rasa cemas. Dalam kasus-kasus berat, dapat menimbulkan fasikulasi otot yang merambat dari kepala, tangan dan kaki, diikuti dengan kejang-kejang yang akhirnya dapat menimbulkan kematian.
Polychlorinated Biphenyls (PCB)
Polychlorinated Biphenyls terdiri dari senyawa-senyawa bifenil yang mengandung l sampai 10 atom klor, sukar larut dalam air, mudah larut dalam lemak, minyak dan pelarut-pelarut non solar lainnya. PCB sukar mengalami penguraian, baik karena pengaruh panas maupun secara biologis. Ia mempunyai sifat dan struktur kimia yang hampir sama dengan pestisida. PCB dapat menyebabkan kulit terluka dan menaikkan aktivitas enzim-enzim hati yang mempunyai efek sekunder pada proses reproduksi (reproductive processes). Senyawa-senyawa PCB dapat bersifat “lethal” bagi organisme perairan. Organisme laut lebih sensitif terhadap senyawa-senyawa PCB dibanding organisme air tawar. Mereka dapat menaikkan aktivitas enzim-enzim hati yang mengurangi steroid, termasuk hormon kelamin.
Logam berat
Secara alamiah unsur-unsur logam berat terdapat di alam, namun dalam jumlah yang sangat rendah. Dalam air laut kandungan logam berat berkisar antara 10-5 – 10-2 ppm. Pada umumnya logam berat dibutuhkan oleh organisme hidup untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya, tetapi pada kadar tertentu bersifat racun bagi organisme perairan. Dalam jumlah yang besar, akan bersifat racun. Toksisitas logam berat ini tergantung pada kadar dan bentuk senyawa. Contonya Cr dapat meninggikan kepekaan pada kulit. Tetapi air dengan kadar Cr = 0,05 ppm sangat kecil kemungkinannya untuk dapat menimbulkan penyakit. Disamping itu toksisitas juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan tersebut, seperti pH, salinitas, suhu, DO dan adanya faktor sinergis dan antagonis dari beberapa unsur dan lain-lainnya.
Radio – nuklida
Radionuklida adalah unsur-unsur yang dapat memancarkan sinar-sinar radioaktif. Radionuklida yang memancarkan sinar α dan β sangat berbahaya bagi jaringan tubuh. Radionuklida ini bisa terdapat dalam air dan dapat terakumulasi dalam tubuh manusia, menyebabkan beberapa jenis penyakit, seperti kanker tulang dan leukemia.
Chemical Oxygen Demand ( COD )
Merupakan ukuran akan banyaknya zat-zat organik yang terdapat dalam suatu perairan. Zat-zat organik yang terdapat dalam air laut :
berasal dari alam atau buangan domestik, industri dan pertanian.
ada yang mudah diuraikan dan ada yang sukar diuraikan oleh mikroorganisme
umumnya bersifat toksik, sehingga membahayakan kehidupan organisme perairan.
BOD5
BOD5, yakni banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan zat organik yang terdapat dalam air selama 5 hari, menggambarkan banyaknya zat organik mudah terurai oleh kegiatan biokimia dalam suatu perairan. Air dengan nilai BOD yang tinggi kurang baik untuk budidaya.
Senyawa organik
NH3-. Toksisitas NH3 dalam air laut lebih tinggi dibandingkan dalam air tawar. Hal ini disebabkan air laut bersifat basa. Kandungan oksigen dan karbon dioksida dalam air laut dapat mengurangi toksisitas amoniak (NH3).
H2S- Gas H2S yang terdapat dalam air laut berasal dari limbah perkotaan dan industri. Disamping itu juga berasal dari hasil proses penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme. Toksisitas H2S tergantung pada pH air laut. Semakin rendah pH air laut semakin tinggi toksisitas H2S. Pada kadar 0.05 ppm sudah bersifat fatal bagi organisme-organisme yang sensitif seperti ikan “trout” (ikan forel).
CN- Radikan sianida banyak terdapat dalam limbah industri. Toksisitas sianida sangat dipengaruhi oleh oksigen terlarut, pH dan temperatur perairan. Dalam bentuk bebas (HCN dan CN ) sangat beracun. Pada kadar 0,01 ppm sudah bersifat fatal bagi beberapa jenis ikan yang sensitif.
W a r n a
Air laut berwarna karena proses alami, baik yang berasal dari proses biologis maupun non-biologis. Produk dari proses biologis dapat berupa humus, gambut dan lain-lain, sedangkan produk dari proses non-biologis dapat berupa senyawa-senyawa kimia yang mengandung unsur Fe, Ni, Co, Mn, dan lain-lain. Selain itu perubahan warna air laut dapat pula disebabkan oleh kegiatan manusia yang menghasilkan limbah berwarna. Air laut dengan tingkat warna tertentu/dapat mengurangi proses fotosintesa serta dapat menganggu kehidupan biota akuatik terutama fitoplankton dan beberapa jenis bentos.
Minyak bumi
Minyak bumi lebih ringan daripada air laut dan di permukaan laut minyak ini menyebar. Kecepatan penyebaran tergantung pada volume dan viskositas. Ketebalan lapisan minyak bumi yang tertumpah di laut dapat berkisar antara 3 – 300 m. Sebanyak 10.000 ton minyak dapat menyebar dengan radius antara 55 mm sampai 5 ½ km (WISAKSONO 1978).
Oksigen dari udara dapat terhalang masuk ke laut karena lapisan minyak. Namun minyak setebal 1 mm tidak akan mengurangi melarutnya O2 ke dalam air laut.
Minyak bumi dapat tenggelam di dasar laut oleh penguapan di permukaan air sehingga tertinggal fraksi-fraksi yang lebih berat dari air laut. Selain itu suhu, salinitas, pH, angin, reaksi dengan zat-zat lain dapat pula merubah berat jenis.
Tumpahan minyak di laut dapat mempengaruhi biota laut atau pantai langsung maupun tidak langsung. Kecelakaan tanker “Torry Canyon” di British Channel pada tahun 1967 telah menyebarkan minyak ke pantai Cornwall, Inggris, dan membunuh banyak burung-burung penyelam. Minyak tersebut telah menyebabkan ikan-ikan tak termakan karena bau minyak. Baru 6 minggu sesudahnya bau itu hilang. Jika kontaminasi minyak tidak terlalu lama maka pengaruh letal menjadi kurang penting.
Dalam minyak bumi terdapat berbagai jenis logam seperti Vanadium Nikel, Tembaga, besi, Seng, Titan dan lain-lainnya yang kadarnya bervariasi sampai ratusan ppm. Dalam kadar tinggi dapat beracun.
PERSYARATAN KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA LAUT
Dampak negatif dari faktor-faktor lingkungan, khususnya yang diakibatkan oleh zat-zat pencemar, terhadap kehidupan biota laut, terutama yang dibudidayakan, memaksa kita untuk menentukan persyaratan persyaratan kualitas air yang nampaknya cukup rumit dan kadang-kadang sulit untuk dipenuhi.
DITJEN PERIKANAN (1982) telah menerbitkan petunjuk teknis budidaya laut untuk berbagai jenis biota. Tercantum didalamnya persyaratan kualitas air yang terdiri dari 6 parameter (Tabel 2).
Tabel 2. Persyaratan Kualitas Air untuk Budidaya Laut (Sumber Direktorat Jendral Perikanan 1982)
Parameter Kerang hijau Kerang darah/bulu Tiram Rumput laut
Dept. Pertanian GSA Dept. Pertanian Dept. Pertanian Dept. Pertanian
1. DO (mg/1) 3 – 8 - 2 – 8 2 – 8 3 – 8
2. pH 6,5 – 9 - 6,5 – 9 6,5 – 9 6,5 – 8
3. Salinitas (5‰) 26 – 35 30 – 31 18 – 30 15 – 35 32
4. Suhu (°C) 15 – 32 20 – 29 15 – 31 15 – 32 27 – 30
5. Nitrat (mg/1) 2,5 – 3 - 1,5 – 3 1,5 – 3 -
6. Phosphat (mg/1) 0,5 – 1 - 0,5 – 1 0,5 – 1 -
Parameter Ikan Beronang Ikan Kerapu Ikan Kakap
Dept. Pertanian Dept. Pertanian Dept. Pertanian
1. DO (mg/1) 4 – 8 4 – 8 4 – 8
2. pH 6,5 – 8 6,5 – 8 6,5 – 8
3. Salinitas (‰) 25 – 31 25 – 30 15 – 30
4. Suhu (°C) 25 – 32 25 – 32 25 – 32
5. Nitrat (mg/1) 1,0 – 3,2 0,9 – 3,2 0,9 – 3,2
6. Phosphat (mg/1) 0,2 – 0,5 0,2 – 0,5 0,2 – 0,5
Dengan adanya pencemaran laut dalam dasawarsa terakhir ini, maka persyaratan-persyaratan tersebut sangat tidak cukup.
Dalam tahun 1984 telah tersusun bahan untuk Rencana Peraturan Pemerintah tentang baku mutu air laut yang diantaranya diperuntukkan bagi budidaya laut, meliputi 18 paremter (Table 3). Bahan-bahan tersebut diharapkan akan menjadi bahan Peraturan Pemeritah yang dapat digunakan untuk melindungi perairan yang telah digunakan untuk budidaya dan sekaligus untuk dipakai sebagai pedoman untuk memilih suatu perairan untuk budidaya laut.
Tabel 3. Baku Mutu Air Laut untuk Budidaya biota laut
Parameter Satuan Nilai
Fisika
1. Suhu °C ±2° variasi alami
2. Warna CU ≤50
3. B a u - alami
4. Kecerahan/secchi m alami
5. Kekeruhan JTU ≤30
6. Sampah terapung - -
7. Minyak mineral - tidak ada lapisan minyak
Kimia
1. pH - 6,5–8,5
2. Salinitas 18–32/±10 variasi alami
3. Daya hantar listrik umho/cm ±10 variasi alami
4. BOD5 mg/1 ≤6,0
5. COD mg/1 ≤11
6. Nilai Permanganat mg/1 ≤9,0
7. N – NH3 mg/1 ≤0,30
8. p PO3 mg/1 Luwes
9. N – NO3 mg/1 Luwes
10. H2S mg/1 ≤0,01
11. Sianida mg/1 ≤0,01
12. Senyawa mg/1 ≤0,02
13. Hidrokarbon minyak mineral total ≤2
14. Oksigen terlarut mg/1 ≤5
15. Pestisida mg/1
Aldrin ≤0,01
Klordan ≤0,01
Parameter
DDT ≤0,02
Dieldrin ≤0,05
Endrin ≤0,002
Heptaklor ≤0,01
Metoksiklor ≤0,005
Roksafen ≤0,02
Lindan ≤0,02
Organofosfat ≤0,100
Karbamat ≤0,100
16. PCB mg/1 seangin
17. Detergen
MBAS mg/1
18. Logam/semi
Logam mg/1
Hg ≤0,003
Pb ≤0,01
AS ≤0,01
Cd ≤0,01
Cr ≤0,01
Se - – -
Zn - – -
Ag - – -
Ni ≤0,002
Radio-nuklida pCi/1
≤1
≤1000
Sr – 90 ≤1
Ra – 226 ≤3
Biologi
MPN E. coli cel/100 ml ≤1000
patogen nihil
KESIMPULAN DAN SARAN
Usaha budidaya laut selalu dilakukan di perairan dekat darat, baik di pulau maupun di pantai, agar mudah dilakukan pengawasan. Tersedianya perairan yang bersih dan subur banyak ditentukan oleh ada tidaknya kegiatan-kegiatan manusia di sektor lain di laut maupun di darat. Kegiatan-kegiatan pelayaran, rekreasi dan pertambangan di perairan pantai dapat menurunkan kualitas air laut sehingga tidak layak untuk budidaya. Demikian pula kegiatan-kegiatan industri pertanian dan pemukiman di darat yang menghasilkan limbah yang dapat terangkut oleh sungai-sungai besar maupun kecil ke laut mengancam kebersihan dan kesuburan dan kesuburan perairan pantai sehingga tidak layak untuk budidaya.
Di perairan pantai yang masih jauh dari kegiatan manusia di darat maupun di laut kondisi perairan masih relatif bersih. Namun dengan pesatnya pembangunan di Indonesia keadaan semacam itu sering tidak bertahan lama. Perairan yang telah diperuntukkan bagi budidaya yang semula bersih dan subur terpaksa harus mengalami tekanan pada lingkungan, baik yang berasal dari kegiatan-kegiatan manusia di sebelah menyebelah perairan maupun di darat.
Untuk menjaga kelestarian usaha budidaya laut, karenanya menjaga pula kelestarian kualitas dan kesuburan air yang diperlukan, maka sedini mungkin perlu diambil langkah-langkah pencegahan sebagai berikut :
Dalam hal perairan pantai masih jauh dari kegiatan-kegiatan manusia maka Pemerintah Daerah perlu menentukan wilayan-wilayah perairan mana yang diperuntukkan budidaya laut dan mana yang untuk sektor lain, sedemikian rupa sehingga tak terjadi tumpang tindih yang merugikan dan tidak mengancam perairan peruntukan ini.
Jika di sekitar perairan budidaya laut telah ada kegiatan-kegiatan baik di laut maupun di darat, yang menghasilkan limbah, maka untuk menjaga kualitas air laut, perlu diterapkan peraturan-peraturan tentang kualitas air dan tentang pencegahan pencemaran laut.
Untuk meyakinkan para pembudidaya laut tentang layaknya kualitas air laut yang dijaga, maka perlu diadakan pemantauan kondisi perairan untuk budidaya laut.
REFERENS
1. BIROWO, S. 1983 – Hydro-oceanographic condition of the Sunda Strait : A reviev Kertas Kerja untuk Symposium 100 th Krakatau 1883 – 1983, Jakarta, 23 – 27 Agustus 1983 : 8 hal.
2. BARDACH, J.E. ; J.H. RYTHER and W.O. Mc LARNEY 1972 – Aquaculture. The farming and Khusbandry of veshwater and marine organisms. John Wiley & Sons. Inc; New York : 868 pp.
3. DIREKTORAT JENDRAL PERIKANAN 1982 – Petunjuk teknis budidaya laut DIT- JEN PERIKANAN, Jakarta : 24 hal.
4. ENVIRONMENTAL PROTECTION AGENSY 1973 – Water Quality Criteria ; a report of the Committee on Water Quality Criteria. EPA, Washington D.C.
5. KANTOR MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1984. Bahan penyusunan RPP baku mutu air laut untuk mandi dan renang, biota laut, dan budidaya biota laut; Lokakarya Buku Mutu Lingkungan Laut, Bogor, 23 – 25 Februari 1984.
6. WISAKSONO, W. 1978 – Kegiatan-Kegiatan industri minyak bumi di lepas pantai dan laut dalam hubungannya dengan soal-soal biologi. Kertas kerja pada Seminar Biologi II, Ciawi, 18–20 Februari 1970:20 pp.
7. WYRTKI,K 1961 – Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters. Naga Report Vol. 2. The Univ. California, Scrips. Inst. of Oceanography.
aqua marine_^

Benda terbesar di Bumi yang pernah ditarik (656.000 Ton & 475 Meter)

"Troll A" Platform
Benda tersebut berguna untuk penambangan minyak di laut lepas Norwegia, dibangun pada Juli 1991-1995 menggunakan 1.200.000 Ton Semen dan 100.000 ton besi (15x lipat banyak besi pada menara eiffel). Setiap tiang berdiameter 24 meter dengan ketebalan dinding 1-2 meter dengan tinggi 475 meter dan berat keseluruhan mencapai 656.000 ton . Benda tersebut dibangun dengan proses Floating Production(Pembuatan Secara Terapung) di daerah laut bernama Vest lalu ditarik menggunakan 8 Kapal bertenaga 555.000 DWT dan 2 Kapal pengarah jalur. Benda tersebut ditarik sejauh 200 km menuju daerah Rogaland, proses penarikan dan penyempurnaan memerlukan waktu 1 tahun. Tahun 1996 Benda tersebut siap dipakai. Dipastikan "Troll A" ini memproduksi minyak mentah hingga 2030 dan gas alam hingga 2060

Perbandingan Besar BendaProses PembuatanProses PenarikanDidalam tiang betonSaat kena BadaiKeadaan Sekarangsaat malam hari:saat siang hari:dari bawah (reporter dari tv):dari dalam laut:aqua marine_^

profesor oseanografi jd muallaf setelah lihat fenomena air asin&laut ada dlm al quran

Kisah ini berawal dari penelitian seorang ahli oseanografi yg melakukan penelitan batas antara air asin- air tawar. Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.


Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. ..”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)


Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan”
ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang
silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an
memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar…! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih
kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
aqua marine_^

Wednesday, 29 June 2011

Bangunan Pantai



even i ever wrote about coastal building, i want to complete it again, even just a 'copas' file.. so thankyou for the writer before @ http://gilang21.webs.com/apps/blog/show/2870664

Konstruksi Pelindung Pantai
Penanggulangan Masalah Pantai; Salah satu dari masalah yang ada di daerah pantai adalah erosi pantai. Erosi pantai dapat menimbulkan kerugian sangat besar dengan rusaknya kawasan pemukiman dan fasilitas-fasilitas yang ada didaerah tersebut.
Untuk menanggulangi erosi pantai, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari penyebab terjadinya erosi. Dengan mengetahui penyebabnya, selanjutnyadapat ditentukan cara penanggulangannya, yang biasanya adalah dengan membuat bangunan pelindung pantai atau menambah suplai sedimen.
Bangunan pantai digunakan untuk melindungi pantai terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai, yaitu

Memperkuat/melindungi pantai agar mampu menahan serangan gelombang.
Mengubah laju pengiriman sedimen sepanjang pantai.
Mengurangi energi gelombang yang sampai ke pantai.
Reklamasi dengan menambah Suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain.

Jenis Bangunan Pantai. Sesuai dengan fungsinya seperti tersebut di atas bangunan pantai dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu :

    1. Kontruksi yang dibangun di pantai dan sejajar dengan garis pantai.
    2. Kontruksi yang dibangun kira-kira tegak lurus pantai dan sambung ke pantai.
    3. Kontruksi yang dibangun di lepas pantai dan kira-kira sejajar dengan garis pantai.

Menurut bentuknya bangunan pantai dapat dibedakan menjadi bangunan sisi miring dan sisi tegak. Termasuk dalam kelompok pertama adalah bangunan dari tumpukan batu yang bagian luarnya diberi lapis pelindung yang terbuat dari batu-batuukuran besar, balok beton, atau batu buatan dari beton dengan bentuk khusus seperti tetrapod, quadripod, tribar, dolos dan sebagainya. Lapis pelindung ini harus mampu menahan serangan gelombang. Sedangkan yang termasuk dalam tipe kedua adalah dinding turap baja atau beton dan sebagainya.
Tipe bangunan pantai yang digunakan biasanya ditentukan oleh ketersediaan material di dekat lokasi pekerjaan, kondisi dasar laut, kedalaman air, danketersediaan peralatan untuk pelaksanaan pekerjaan. Batu adalah salah satubahan utama yang digunakan untuk membuat bangunan. Mengingat jumlah yangdiperlukan sangat besar maka ketersediaan batu disekitar lokasi pekerjaan harus diperhatikan. Faktor penting lainnya adalah karakteristik dasar laut yang mendukung bangunan tersebut dibawah pengaruh gelombang. Tanah dasar (pondasi bangunan) harus mempunyai daya dukung yang cukup sehingga stabilitas bangunandapat terjamin. Pada pantai dengan tanah dasar lunak, dimana daya dukung tanah kecil, maka konstruksi harus dibuat ringan (memperkecil dimensi) atau memperlebar dasar sehingga bangunan berbentuk trapesium (sisi miring) yang terbuat dari tumpukan batu atau balok beton. Bangunan berbentuk trapesium mempunyai luas alas besar sehingga tekanan yang ditimbulkan oleh berat bangunan kecil. Apabila daya dukung tanah besar maka dapat digunakan pemecah gelombang sisi tegak. Bangunan ini dapat dibuat dari kubus beton atau balok beton yangditumpuk. Seiring dijumpai tanah dasar sangat lunak sehingga tidak mampu mendukung beban diatasnya. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukanperbaikan tanah dasar dengan mengeruk tanah lunak tersebut dan menggantinyadengan pasir, atau dengan memancang terucuk bambu yang akan berfungsi sebagai pondasi.

Dinding Pantai Revetmen
Dinding pantai atau revetmen adalah bangunan yang memisahkan daratan danperairan pantai, yang terutama berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap erosi dan limpasan gelombang (overtopping) ke darat. Daerah yang dilindungi adalah daratan tepat di belakang bangunan. Permukaan bangunan yang menghadaparah datangnya gelombang dapat berupa sisi vertikal atau miring. Dinding pantaibiasanya berbentuk dinding vertikal, sedangkan revetmen mempunyai sisi miring.Bangunan ini ditempatkan sejajar atau hampir sejajar dengan garis pantai, danbisa terbuat dari pasangan batu, beton, tumpukan pipa beton, turap, kayu atautumpukan batu.
Dalam perencanaan dinding pantai atau revetmen perlu ditinjau fungsi dan bentuk bangunan, lokasi, panjang, tinggi stabilitas bangunan dan tanah pondasi,elevasi muka air baik di depan maupun di belakang bangunan, ketersediaan bahanbangunan, dan sebagainya.
Fungsi bangunan akan menentukan pemilihan bentuk. Permukaan bangunan dapat berbentuk sisi tegak, miring, lengkung atau bertangga. Bangunan sisi tegakdapat juga digunakan sebagai dermaga atau tempat penambatan kapal, Tetapi sisitegak kurang efektif terhadap serangan gelombang, terutama terhadap limpasandibanding dengan bentuk lengkung (konkaf). Pemakaian sisi tegak dapat mengakibatkan erosi yang cukup besar apabila kaki atau dasar bangunan berada diair dangkal.
Gelombang yang pecah menghantam dinding akan membelokkan energi keatas dan kebawah. Gelombang datang mulai pecah di depan dinding vertikal, dan terjadi benturan dengan muka gelombang hampir vertikal. Tumbukan tersebut menyebabkan masa air bergerak keatas dan kebawah. Komponen ke bawah menimbulkan arus yangdapat mengerosi material dasar di depan bangunan. Untuk mencegah erosi tersebut diperlukan perlindungan di dasar bangunan yang berupa batu dengan ukuran dan gradasi tertentu. Untuk mencegah keluarnya butir-butir tanah halus melalui sela-sela batuan yang dapat berakibat terjadinya penurunan bangunan, pada dasar pondasi diberi lapis geotekstil. Sisi miring dan kasar dapat menghancurkan dan menyerap energi gelombang, mengurangi kenaikan gelombang (wave run up),limpasan gelombang dan erosi dasar. Bangunan dengan sisi lengkung konkaf adalah yang paling efektif untuk mengurangi limpasan gelombang. Apabila puncak bangunan digunakan untuk jalan atau maksud yang lain, bentuk ini merupakan yang paling baik untuk perlindungan puncak bangunan.


Groin
Groin adalah bangunan pelindung pantai yang biasanya dibuat tegak lurus garis pantai, dan berfungsi untuk menahan pengiriman sedimen sepanjang pantai,sehingga bisa mengurangi/menghentikan erosi yang terjadi. Bangunan ini juga bisa digunakan untuk menahan masuknya pengiriman sedimen sepanjang pantai ke pelabuhan atau muara sungai.
Groin hanya bisa menahan pengiriman sedimen sepanjang pantai dalam disepanjang pantai terjadi pengiriman sedimen sepanjang pantai. Groin yang ditempatkan dipantai akan menahan gerak sedimen tersebut, sehingga sedimen mengendap disisisebelah hulu (terhadap arah pengiriman sedimen sepanjang pantai). Di sebelahhilir groin angkutan sedimen masih tetap terjadi, sementara suplai dari sebelah hulu terhalang oleh bangunan, akibatnya daerah di hilir groin mengalami difisit sedimen sehingga pantai mengalami erosi. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai yang akan terus berlangsung sampai dicapai suatu keseimbangan baru. Keseimbangan baru tersebut tercapai pada saat sudut yang dibentuk oleh gelombang pecah terhadap garis pantai baru adalah nol,dimana tidak terjadi angkutan sedimen sepanjang pantai.


Jetty
Jetty adalah sebuah bangunan tegak lurus pantai yang diletakkan pada kedua sisimuara sungai yang berfungsi untuk mengurangi pendangkalan alur oleh sedimenpantai. Pada penggunaan muara sungai sebagai alur pelayaran, pengendapan dimuara dapat mengganggu lalu lintas kapal. Untuk keperluan tersebut jetty harus panjang sampai ujungnya berada di luar gelombang pecah. Dengan jetty panjang pengiriman sedimen
Jetty juga dapat digunakan untuk mencegah pendangkalan di muara, dalamkaitannya dengan pengendalian banjir. Sungai-sungai yang bermuara pada pantai berpasir dengan gelombang cukup besar sering mengalami penyumbatan muara oleh endapan pasir. Karena pengaruh gelombang dan angin, endapan pasir terbentuk dimuara. Pengiriman sedimen sepanjang pantai juga sangat berpengaruh terhadap pembentukkan endapan tersebut. Pasir yang melintas di depan muara akan terdorong oleh gelombang masuk ke muara dan kemudian diendapkan. Endapan yang sangat besar dapat menyebabkan tersumbatnya muara sungai. Penutupan tersebut terjadi padamusim kemarau dimana debit sungai kecil sehingga tidak mampu mengerosi endapan.Penutupan muara tersebut dapat menyebabkan terjadinya banjir di daerah sebelah hulu muara. Pada musim penghujan air banjir dapat mengerosi endapan sehingga sedikit demi sedikit muara sungai terbuka kembali. Selama proses penutupan dan pembukaan kembali tersebut biasanya disertai dengan membeloknya muara sungai dalam arah yang sama dengan arah pengiriman sedimen sepanjang pantai. Jettydapat digunakan untuk menanggulangi masalah tersebut.
Mengingat fungsinya hanya untuk penanggulangan banjir, maka dapat digunakan salah satu dari bangunan berikut, yaitu jetty panjang, jetty sedang atau jetty pendek. Jetty panjang apabila ujungnya berada di luar gelombang pecah. Tipe iniefektif untuk menghalangi masuknya sedimen ke muara, tetapi biaya kontruksisangat mahal, sehingga kalau fungsinya hanya untuk penanggulangan banjir pemakaian jetty tersebut tidak ekonomis. Kecuali apabila daerah yang harus dilindungi terhadap banjir sangat penting. Jetty sedang, dimana ujungnya berada antara muka air surut dan lokasi gelombang pecah, dapat menahan sebagianpengiriman sedimen sepanjang pantai. Alur diujung jetty masih memungkinkan terjadinya endapan pasir. Pada jetty pendek, kaki ujung bangunan berada padamuka air surut. Fungsi utama bangunan ini adalah menahan berbeloknya muara sungai dan mengkonsentrasikan aliran ada alur yang telah ditetapkan untuk bisa mengerosi endapan, sehingga pada awal musim pasang hujan dimana debit besar(banjir) belum terjadi, muara sungai telah terbuka.


Pemecah Gelombang (Break Water).
Seperti telah dijelaskan di depan bahwa pcmecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama banyak digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan, sedangkan tipekedua untuk perlindungan pantai terhadap erosi. Secara umum kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada tipe pertama perlu ditinjau karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah gelombang, seperti halnya pada perencanaan groin dan jetty. Selanjutnya dalam bagian ini tinjauan lebih difokuskan pada pemecah gelombang lepas pantai.
Pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai danberada pada jarak tertentu dari garis pantai. Bangunan ini direncanakan untuk melindungi pantai yang terletak dibelakangnya dan serangan gelombang.Tergantung pada panjang pantai yang dilindungi, pemecah gelombang lepas pantaidapat dibuat dari satu pemecah gelombang atau suatu seri bangunan yang terdiridari beberapa ruas pemecah gelombang yang dipisahkan oleh celah.
Perlindungan oleh pemecahan gelombang lepas pantai terjadi karena berkurangnya energi gelombang yang sampai di perairan di belakang bangunan. Berkurangnya energi gelombang di daerah terlindung akan mengurangi pengiriman sedimen didaerah tersebut. Pengiriman sedimen sepanjang pantai yang berasal dari daerah di sekitarnya akan diendapkan dibelakang bangunan. Pengendapan tersebut menyebabkan terbentuknya cuspate. Apabila bangunan ini cukup panjang terhadap jaraknya dari garis pantai, maka akan terbentuk tombolo.
Pengaruh pemecah gelombang lepas pantai terhadap perubahan bentuk garis pantai dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Apabila garis puncak gelombang pecah sejajar dengan garis pantai asli, terjadi difraksi di daerah terlindung dibelakang bangunan, di mana garis puncak gelombang membelok dan berbentuk busur lingkaran. Perambatan gelombang yang terdifraksi tersebut disertai dengan angkutan sedimen menuju ke daerah terlindung dan diendapkan di perairan dibelakang bangunan.
Penambahan Suplai Pasir di Pantai (Sand Nourishment). Pantai berpasir mempunyaikemampuan perlindungan alami terhadap serangan gelombang dan arus. Perlindungan tersebut berupa kemiringan dasar pantai di daerah nearshore yang menyebabkan gelombang pecah di lepas pantai, dan kemudian energinya dihancurkan selamadalam penjalaran menuju garis pantai di surf zone. Dalam proses pecahnya gelombang tersebut sering terbentuk offshore bar di ujung luar surf zone yang dapat berfungsi sebagai penghalang gelombang yang datang (menyebabkan gelombangpecah).
Erosi pantai terjadi apabila di suatu pantai yang ditinjau terdapat kekurangansuplai pasir. Stabilisasi pantai dapat dilakukan dengan penambahan suplay pasirke daerah tersebut. Apabila pantai mengalami erosi secara terus menerus, maka penambahan pasir tersebut perlu dilakukan secara berkala, dengan laju sama dengan kehilangan pasir yang disebabkan oleh erosi.
Untuk mencegah hilangnya pasir yang ditimbun di ruas pantai karena terangkut oleh arus sepanjang pantai, sering dibuat sistem groin. Dengan adanya grointersebut, pasir yang ditimbun akan tertahan dalam ruas-ruas pantai di dalam sistem groin. Tetapi perlu dipikirkan pula bahwa pembuatan groin tersebut dapat menghalangi suplay sedimen ke daerah hilir, yang dapat menimbulkan permasalahan baru di daerah tersebut.

Memasang karang Buatan
Karang buatan yang dikembangkan pertama kali di Selandia Baru mulai tahun 1996,energi gelombang akan berkurang sampai 70 persen ketika sampai di pantai.Pembangunan konstruksi di bawah laut itu juga memungkinkan tumbuhnya terumbu karang baru.

Kubus Beton Tumpuk
Terlepas garis pantai terlindungi atau tidak, upaya menghentikan terjadinyaabrasi secara terus menerus perlu dilakukan langkah-langkah penanggulangannya.Terdapat banyak metode dalam penanggulangan abrasi namun prinsip pokok penanggulangannya adalah memecah gelombang atau meredam energi gelombang yangterjadi.
Untuk mendapatkan type pemecah/peredam energi gelombang yang efektif perlu dilakukan pengkajian yang mendalam terhadap :

  1 Sifat dari pada karakteristik dan tinggi gelombang 
   2. Kondisi tanah
   3. Pasang surut Bathimetry dan gradient pantai
   4. Memperlihatkan kondisi tanah dan fungsi dari pada Breakwater itu sendiri, maka tipe pemecah/peredam energi gelombang ada bermacam-macam dan salah satunya adalah type box-beton (kubus beton), tipe ini memiliki beberapa keuntunganseperti :

Dari segi teknis sangat efektif sebagai peredam energi gelombang Kubus Beton memiliki perbedaan berat jenis sekitar 2,4 kali dari berat jenis air atau sekitar 2,4 ton untuk 1 m3 beton
Dari segi pelaksanaan data dibuat di tempat dan mudah dalam penataan. Bentuk kubus memudahkan kita untuk menata bentuk breakwater sesuai keinginan kita. Kadang breakwater murni kita gunakan sebagai pemecah gelombang namun kita dapat juga menyusunnya hanya untuk mengurangi energi gelombangnya saja dengan bentuk susunan berpori.
Untuk kondisi tertentu dari segi biaya jauh lebih murah. Untuk daerah-daerah yang tidak memiliki tambang kelas C yang menyangkut batu gunung mulai berat 5 kg - 700 kg keputusan untuk menggunakan kubus beton dapat membantu dan mengurangi biaya pengadaan dan mobilisasinya.©
tulisan diatas saya kutip dari tulisan tentang  "MASALAH PANTAI ANCAMAN POTENSIAL TERHADAP KEUTUHAN WILAYAH TELUAR"
Kol Laut (T) Bambang Wahyudin  ;)...
semoga berguna:)....  

aqua marine_^


Friday, 18 February 2011

oseanografi perikanan



TUGAS KULIAH

OSEANOGRAFI PERIKANAN


ANALISIS KEBIJAKAN SISTEM OPERASI PENANGKAPAN IKAN











Oleh:

SAKINA RUSMA WARDHANI
K2E 008 048








PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2010


ABSTRAK

Berbagai issue yang muncul di bidang kelautan, antara lain : sebagai negara maritim dengan luas laut sekitar 80 % dari luas daratan, pendapatan di sektor kelautan khususnya diperikanan tahun ini sangat rendah dibandingkan dengan sektor pertanian. Oleh karena itu untuk menaikan devisa negara, pemerintah Indonesia melalui Departemen Kelautan dan Perikanan akan mengizinkan kapal nelayan asing menangkap ikan di perairan ZEE Indonesia.
Yang perlu dibahas dalam masalah ini adalah komponen unit usaha dan komponen sumber daya laut, karena komponen tersebut merupakan pemeran utama di kelautan umumnya dan perikanan khususnya dimana komponen lainnya sebagai komponen penunjang atau komponen akibat.
Selama ini pemerintah sering dan sudah banyak memberi penyuluhan-penyuluhan pada sekelompok nelayan melalui koperasi atau LSM bahkan memberi pinjaman dengan sistim bagi hasil untuk pembelian kapal jenis Fiber. tetapi tetap saja tidak ada perubahan, dan kapal fiber yang diberikan banyak yang tidak digunakan. Mereka lebih suka menggunakan kapal tangkap dari kayu ketimbang kapal fiber atau baja.
Demikian pula hasil tangkapan yang diperoleh, para nelayan tidak akan mau memperhatikan masalah lingkungan dan konservasi laut terutama dalam jenis ikan yang ditangkap, mereka tidak peduli hasil tangkapannya apakah yang ditangkap ikan kecil (ikan belum dewasa) atau ikan yang nilai jualnya rendah karena bagi mereka jenis ikan sekecil apapun atau jenis ikan apapun yang diperoleh tetap akan menghasilkan uang. Semuanya ini disebabkan akibat pendidikan yang rendah dan penghasilan mereka yang dibawah batas kemiskinan, bahkan di daerah pantura, banyak para nelayan menggunakan alat tangkap pukat tetapi dalam ukuran kecil.
Banyak kapal-kapal nelayan asing beroperasi di perairan Indonesia tanpa mengalami masalah dengan aparat keamanan perairan. Hal ini dimungkinkan karena adanya kurang ketatnya pengawasan atau adanya kolusi antara awak kapal dengan aparat yang berpenghasilan umumnya sangat kecil
Dibutuhkan investor-investor asing yang dapat membangun kembali armada perikanan Indonesia untuk mendapatkan kembali kemajuan perikanan kita, selain itu juga diperlukan adnya bantuan materiil dari pemerintah selaku komponen unit usaha perikanan dalam mengembangkan sumberdaya laut Indonesia, seperti modal, pendidikan, kredit nelayan, dan sebagainya.




I.                    PENDAHULUAN

Berbagai issue yang muncul di bidang kelautan, antara lain : sebagai negara maritim dengan luas laut sekitar 80 % dari luas daratan, pendapatan di sektor kelautan khususnya diperikanan tahun ini sangat rendah dibandingkan dengan sektor pertanian. Oleh karena itu untuk menaikan devisa negara, pemerintah Indonesia melalui Departemen Kelautan dan Perikanan akan mengizinkan kapal nelayan asing menangkap ikan di perairan ZEE Indonesia.
Disamping itu banyak terjadi pencurian ikan di perairan Nusantara oleh kapalkapal nelayan asing. Adanya pemakaian Trawl oleh nelayan asing khususnya di kawasan ZEE, sedangkan pada Keppres No. 39 tahun 1980. sampai sekarang pengoperasian trawl/Pukat harimau tetap dilarang. Dipihak lain banyak hasil tangkapan nelayan kita dijual langsung kekapal pengumpul asing khususnya di perairan Laut Cina Selatan (Selat Karimata) sehingga memperkecil pemasukan negara. Hal ini dilakukan para nelayan karena harga jual yang menggiurkan, yang langsung diterima para nelayan tanpa adanya bagi hasil dengan juragan pemilik kapal yang dirasa tidak adil, atau pembagian untuk mereka terlalu kecil. Hal ini dapat dilihat dari taraf kehidupan mereka yang sangat jauh dibawah kewajaran. Untuk mengantisipasi hal tersebut diatas, perlu dikaji kembali kebijakan yang diterapkan di sektor perikanan.Saat ini pemerintah telah menerbitkan beberapa peraturan maupun keputusan antara lain, PP Nomor 15 Tahun 1999 dengan perubahannya PP Nomor 46 tahun 1993 dan PP Nomor 141 Tahun 2000 tentang usaha perikanan, yang isinya lebih banyak mengatur pemberian dan pencabutan izin usaha perikanan, Kepmen Pertanian Nomor392/kpts/IK.120/4/99 tentang jalur-jalur penangkapan ikan yang isinya mengatur kapasitas / jenis kapal dan alat penangkap yang diperbolehkan pada jalur-jalur perairan tertentu, Kepmen Keuangan Nomor 316/KMK.06/2001 yang dikuatkan dengan Kepmen Indag Nomor : 548/MPII/Kep/7/2002 tentang tariff dan harga patokoan pungutan hasil perikanan yang semuanya lebih banyak mengatur masalah perizin, larangan dan pungutan yang lebih banyak bersifat aroganisme dan ketimbang bersifat pengayoman. Meskipun demikian tidak semua peraturan sifatnya aroganisme sebagai contoh Kepmen Pertanian Nomor : 509/Kpts/IK.120/95 tentang Pedoman kemitraan Usaha Prikanan Dengan Pola PIR.



Gambar 1. Diagram Blok Sistim Operasi perikanan dan kelautan

II.                  IDENTIFIKASI MASALAH

Untuk mengidentifikasi masalah yang ada perlu dijabarkan terlebih dahulu sistim operasi kelautan di Indonesia. Seperti yang diketahui komponen dari sistim kelautan terdiri dari :
1. Sumber daya kelautan itu sendiri : laut, ikan, trumbu karang, lamun
2. Unit usaha kelautan khususnya perikanan : kapal penangkap ikan, alat tangkap ikan, Nelayan.
3. Lembaga yang terkait : DPK, Deptan, Deperindag, Depkeu, Dinas kelautan kabupaten dan propinsi, ALRI, Polri.
4. Sarana dan Prasarana : Pelabuhan, pengolahan, Cold storage dll
5. Masyarakat (nasional dan Internasional) : Konsumen, dana, teknologi.

Semua komponen tersebut diatas saling terkait menjadi satu sistim operasi kelautan (Lihat Gambar 1). Dari keempat komponen tersebut diatas, yang perlu dibahas adalah komponen unit usaha dan komponen sumber daya laut, karena komponen tersebut merupakan pemeran utama di kelautan umumnya dan perikanan khususnya dimana komponen lainnya sebagai komponen penunjang atau komponen akibat.
Nelayan sebagai pelaku, mempunyai karakter tersendiri. Nelayan di Indonesia bagian barat khususnya, mempunyai tingkat pendidikan dan penghasilan sangat rendah dengan rata-rata berpendidikan SD bahkan tidak sekolah dengan berpenghasilan sekitar Rp 300.000,- sampai Rp 500.000,-. Karena mereka tergolong masyarakat pendidikan dan penghasilan rendah, dibenak mereka hanya ada bagaimana saya bisa melangsungkan hidup. Ini berarti yang mereka pikirkan hanya perut. Mereka cepat puas dengan yang apa diperolehnya, sehingga mereka tidak tertarik dengan segala macam aturan, himbauan dan sebagainya. Sebagai contoh, nelayan di P Seribu, diminta untuk mengeringkan rumput laut yang dibudi dayakan agar diperoleh harga jual yang lebih tinggi (4 x dari kondisi basah). Apa kata mereka? “untuk apa susah-susah mengeringkannya, kondisi basah saja sudah cukup untuk makan”. Demikian pula kalau mereka telah mendapatkan uang, baik dari hasil tangkap maupun dari hasil rumput laut, mereka istirahat, dan kalau uangnya sudah habis, mereka pinjam uang untuk beli beras dari para juragan untuk keluarganya selama mereka kembali kelaut. Ini juga dialami oleh nelayan-nelayan di pantai Utara Jawa. Mereka malas, cepat puas, dan tidak punya cita-cita kedepan, sehingga mereka selalu mencari jalan pintas. Ada pendidikan ada uang demikian moto kita. Demikian pula bagi para nelayan, mereka perlu diberi pendidikan, tetapi itu hanya berlaku bagi generasi mudanya. Meskipun realisasinya tidak mudah karena untuk meningkatkan pendidikan anak-anaknya perlu ekstra treatment, karena mereka beranggapan untuk apa sekolah tinggitinggi akhirnya jadi nelayan atau pelayan hotel, lebih baik membantu pekerjaan orang tuanya jadi nelayan. Belum lagi biaya SPPnya mereka anggap cukup berat. Dari hasil data statistik, pendidikan anak nelayan rata-rata lulusan SD, paling tinggi SMU (10 % data dari BPS P. Seribu 1997). Lulus SMU umumnya bekerja sebagai pelayan hotel atau Satpam di Pulau wisata di P. Seribu. Di Pantura anak nelayan lulusan SMU sebagian besar jadi Satpam Di pelabuhan atau pengangguran.
Disamping itu pula dengan kondisi perekonomian yang ada, mereka hanya mampu memiliki kapal berbobot tidak lebih dari 8 ton dan lebih besar dari itu umumnya milik juragan, (Diperoleh dari hasil pengamatan di P. Seribu, Pantura dan propinsi Babel) sehingga mereka hanya mampu menangkap ikan karang dan ikan pantai yaitu ikan ikan untuk konsumsi lokal kecuali di perairan selat Karimata yang dilakukan nelayan di kepulauan Babel hasil tangkapannya dapat dijual ke negara tetangga.
Keterbatasan sebagian besar nelayan kita mengarungi laut lepas terutama lautan samudra karena keterbatasan kemampuan kapal yang mereka miliki kecuali kapal-kapal penangkap ikan milik juragan dimana nelayan sebagai buruh
Selama ini pemerintah sering dan sudah banyak memberi penyuluhan-penyuluhan pada sekelompok nelayan melalui koperasi atau LSM bahkan memberi pinjaman dengan sistim bagi hasil untuk pembelian kapal jenis Fiber. tetapi tetap saja tidak ada perubahan, dan kapal fiber yang diberikan banyak yang tidak digunakan. Mereka lebih suka menggunakan kapal tangkap dari kayu ketimbang kapal fiber atau baja.
Mengenai hasil tangkapan di beberapa TPI, dilihat dari data penjualan ikan tangkap di kepulauan Babel hasilnya sangat rendah dibandingkan dengan potensi ikan di perairan Cina selatan (selat Karimata). (BPS 1997). Informasi yang diperoleh dari koperasi nelayan di Babel, sebagian ikan dijual di laut ke pedagang ikan Singapore. Hal ini dilakukan karena mereka memperoleh pembayaran langsung tanpa harus ada beban kembali ke pantai.
Demikian pula hasil tangkapan yang diperoleh, para nelayan tidak akan mau memperhatikan masalah lingkungan dan konservasi laut terutama dalam jenis ikan yang ditangkap, mereka tidak peduli hasil tangkapannya apakah yang ditangkap ikan kecil (ikan belum dewasa) atau ikan yang nilai jualnya rendah karena bagi mereka jenis ikan sekecil apapun atau jenis ikan apapun yang diperoleh tetap akan menghasilkan uang. Semuanya ini disebabkan akibat pendidikan yang rendah dan penghasilan mereka yang dibawah batas kemiskinan, bahkan di daerah pantura, banyak para nelayan menggunakan alat tangkap pukat tetapi dalam ukuran kecil.
Banyak kapal-kapal nelayan asing beroperasi di perairan Indonesia tanpa mengalami masalah dengan aparat keamanan perairan. Hal ini dimungkinkan karena adanya kurang ketatnya pengawasan atau adanya kolusi antara awak kapal dengan aparat yang berpenghasilan umumnya sangat kecil

III. ALTERNATIF PEMECAHAN

Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, ada beberapa solusi sebagai pemecahan atau kebijakan yang masing-masing adalah :
1.   Perbaikan unit usaha nelayan oleh swasta atau pemda
2. Menarik Investor asing membangun sektor Perikanan Nasional antara lain membangun armada dan pelabuhan perikanan

3.1. Perbaikan Unit Usaha Nelayan oleh swasta atau pemda
Kebijakan I adalah melakukan perbaikan Unit usaha penangkapan ikan oleh nelayan dengan kegiatan antara lain :

1. Memperbaiki tingkat hidup nelayan khususnya generasi muda dengan memberi pendidikan tanpa biaya di bidang perikanan sampai jenjang pendidikan setingkat SMU serta membangun Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) dan pendidikan singkat Perikanan disetiap Kabupaten yang memiliki kekayaan sumber daya kelautan yang berlokasi di pantai.

2. Memberi modal dengan sistim modal bergulir dalam bentuk sarana (kapal dan alat tangkap yang ramah lingkungan) kepada sekelompok nelayan lulusan SUPM maupun nelayan tradisionil yang telah mengikuti pendidikan singkat Perikanan melalui koperasi gaya baru (ingat sebagian nelayan sudah aprori terhadap koperasi) dengan sistim kemitraan yang adil melalui perubahan Kepmen Pertanian Nomor : 509/Kpts/IK.120/95 tentang Pedoman Kemitraan Usaha Perikanan dengan Pola PIR.

3. Memberikan materi pendidikan kepada aparat Dinas perikanan dan para nelayan khususnya generasi muda cara budidaya dan pengolahaan rumput laut yang menghasilkan rumput laut bermutu dengan tidak merusak lingkungan terutama nelayan-nelayan di kepulauan berkarang seperti kepulauan Seribu.

4. Melakukan penelitian dalam pengembangan budidaya ikan laut diperairan dengan membangun tambak alam di pantai khususnya untuk jenis ikan karang untuk mengatasi musim Barat dengan melakukan pembibitan alam seperti ikan Kerapu, Baronang.

5. Dalam pendidikan, para siswa calon nelayan diajarkan membuat alat tangkap berwawasan lingkungan dan konservasi

6. Dengan mengandalkan karya putra putri bangsa dan sumber daya alam yang ada, mewajibkan kapal penangkap ikan khususnya kapal nelayan dibangun oleh putra-putra lokal (Tidung Besar, Babel, Sulawesi Selatan) dan terbuat dari kayu dengan gaya lokal, dengan dilengkapi dengan layar dan Motor. (ingat BBM kita hampir habis)

7. Dibangun pelabuhan – pelabuhan perikanan atau pelabuhan tempat pengumpulan ikan (TPI) baru di tempat-tempat strategis dari segi pengumpulan, keamanan dan pertahanan Nasional noleh Pemda Kabupaten yang dilengkapi dengan Laboratorium, sarana pengolahan, Tambak alam, kantor wakil pembeli, kantor Polisi perairan, markas komando pertahanan laut tingkat Koramil serta kapal pengumpul untuk membeli hasil tangkapan langsung dilaut.

8. Mengikut sertakan semua aparat yang terlibat dalam hal perolehan penghasilan tambahan melalui koperasi yang dikelola secara profesional di setiap Pelabuhan penangkapan ikan. 9. Penetuan harga hasil tangkapan harga beli yang menguntungkan nelayan (meninjau Kepmen Deperindag No. 548/MPII/kep/7/2002) serta biaya retribusi yang rendah (Kepmen Depkeu No. 316/KMK.06/2001).

3.2. Menarik investor asing untuk membangun armada perikanan.

Dengan membangun Armada penangkapan ikan serta membangun Pelabuhan Perikanan atau pelabuhan tempat Pengumpulan Ikan (TPI) dengan melibatkan investor asing perlu dilakukan kebijakan sebagai berikut :
1. Memberi izin pemodal asing ikut serta dalam pembangunan unit-unit usaha perikanan (armada perikanan) bermitra dengan pengusaha lokal dengan bobot armada diatas 40 Ton GT dan dilengkapi dengan coldstorage dan perlengkapan navigasi dan komunikasi

2. Mewajibkan semua pengusaha penangkapan ikan mempekerjakan nelayan lokal baik sebagai nelayan maupun awak kapal dengan gaji yang wajar dan ditentukan dengan peraturan atau Undang-undang.

3. Memberi izin pendidikan asing membangun sekolah-sekolah perikanan setingkat SMU di setiap kabupaten kerjasama dengan Pemda Kabupaten yang dibiayai dari dana investor. 4. Mewajibkan semua kapal penangkapan ikan yang dioperasikan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan dan konservasi

5. Mewajibkan para calon nelayan ke pendidikan Diploma dengan memberi materi pengajaran pengoperasian alat penangkap ikan berwawasan lingkungan dan konsevasi.

6. Memberi izin pihak investor asing membangun dan mengelola pelabuhan perikanan (TPI) yang lengkap berikut sarana pengolahan ikan didalamnya dengan mitra lokal ditempat-tempat strategis serta menempatkan petugas Dinas Kelautan/perikanan kabupaten dan aparat keamanan di setiap pelabuhan dengan gaji tambahan yang diperoleh dari pungutan hasil tangkap ikan dan dibayar melalui instansinya masingmasing

IV. ANALISIS
Untuk menentukan alternatif mana yang terbaik, dilakukan analisis untuk setiap alternatif yang dimodifikasi. Dengan metode ini luaran yang diperoleh adalah bobot dari masing-masing alternatif untuk setiap Outcome yang dicapai. Adapun Outcome yang diharapkan adalah :
1. Pemasukan besar yang diperoleh dari sektor perikanan
2. Kesejahteraan Nelayan
3. Penangkapan berwawasan lingkungan dan konsevasi
4. Kedaulatan penuh atas sumber alam kelautan
Outcome dari masing-masing alternatif ditentukan berdasarkan gabungan peluang dari setiap aktivitas masing-masing alternatif.

V. PENUTUP
Untuk memperoleh pemasukan, kesejahteraan nelayan, tingkat konservasi dan kedaulatan yang paling besar kebijakan yang diambil adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah membiayai pembangunan dan pelaksanaan Pendidikan perikanan di seluruh kabupaten yang memiliki laut sebagai sumber Daya alam, yang sebagian dananya dapat diperoleh dari swasta.
2. Investor asing diperbolehkan membangun armada perikanan bermitra dengan swasta diperairan ZEE, dan zona lainnya kecuali di perairan pesisir
3. Bersama dengan Swasta, pemerintah membagun fasilitas pelabuhan perikanan (Tempat pengumpul ikan) di lokasi-lokasi yang dianggap strategis di semua Zona. Dalam zone dapat lebih dari TPI
4. Pendidikan perikanan mewajibkan meberikan materi pengajaran mengenai penangkapan (pemrosesan dan pembuatan alat tangkap) yang berwawasan konsevasi dan lingkungan.
5. Alat tangkap yang digunanakan harus berwawasan lingkungan dan konservasi
6. Pemberian kredit lunak kepada nelayan untuk mengembangkan usahanya di kelautan melalui koperasi dengan sistim bagi hasil modal bergulir



















D A F T A R   P U S T A K A




















aqua marine_^

Wednesday, 1 December 2010

COASTLINE PROTECTION

          Pantai secara alami dapat berfungsi sebagai penyerap energi dari gelombang pecah sehigga dapat melindungi garis pantai dari erosi pantai, akan tetapi pada kenyataannya panai juga berguna sangat banyak terutama di bidang kelautan, seperti pelayaran, perikanan, pertambangan lepas pantai, hal ini dapat menyebabkan kerusakan di daerah pantai, seperti kapal yang bersandar di perairan dekat pantai, akhirnya para ilmuwan dan ahli teknik memutuskan untuk membuat sesuatu yang dapat melindungi garis pantai secara terus menerus dan berkelanjutan baik jangka panjang maupun jangka pendek, hal ini sangat penting dilakukan mengingat fungsi dari pantai yang sangat banyak.
                  Berikut ini adalah bangunan yang sengaja dibuat untuk melindungi garis pantai:
1.    GROIN
Merupakan bangunan pantai yang biasanya dibuat tegak lurus dengan garis pantai, dan berfungsi untuk menahan transpor sedimen sepanjang pantai, sehingga bisa mengurangi atau menhentikan erosi yang terjadi, bangunan ini juga biasa dibuat untuk menahan masuknya transpor sedimen sepanjang pantai ke pelabuhan atau muara sungai (Triatmodjo, 1999)
Penggunaan Groin dengan mneggunakan satu buah groin tidaklah efektif. Biasanya perlindungan pantai dilakukan dengan membuat suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa groin yang ditempatkan dengan jarak tertentu. Hal ini dimaksudkan agar perubahan garis pantai tidak terlalu signifikan.
gambar nya klik disini


2.    JETTY
Jetty adalah bangunan tegak lurus pantai yang diletakan di kedua sisi muara sungai yang berfungsi untuk mengurangi pendangkalan alur oleh sedimen pantai. Pada penggunaan muara sungai sebagai alur pelayaran, pengendapan dimuara dapat mengganggu lalu lintas kapal. Untuk keperluan tersebut jetty harus panjang sampai ujungnya berada di luar sedimen sepanjang pantai juga sangat berpengaruh terhedap pembentukan endapan tersebut. Pasir yang melintas didepan muara geelombang pecah. Dengan jetty panjang transport sedimen sepanjang pantai dapat tertahan dan pada alur pelayaran kondisi gelombang tidak pecah, sehingga memungkinkan kapal masuk kemuara sungai.
Selain untuk melindingi alur pelayaran, jetty juga dapat digunakan untuk mencegah pendangkalan dimuara dalam kaitannya dengan pengendalian banjir. Sungai-sungai yang bermuara pada pantai yang berpasir engan gelombang yang cukup besar sering mengalami penyumbatan muara oleh endapan pasir.karena pengaruh gelombang dan angin, endapan pasir terbentuk di muara. Transport akan terdorong oleh gelombang masuk kemuara dan kemudian diendapkan. endapan yang sangat besar dapat menyebabkan tersumbatnya muara sungai. penutupan muara sungai dapat menyebabkan terjadinya banjir didaerah sebelah hulu muara. Pada musim penghujan air banjir dapat mengerosi endapan sehingga sedikit demi sedikit muara sungai terbuka kembali. Selama proses penutupan dan pembukaan kembali tersebut biasanya disertai dengan membeloknya muara sungai dalam arah yang sama dengan arah transport sedimen sepanjang pantai.

3.    BREAKWATER
Breakwater atau dalam hal ini pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai dan berada pada jarak tertentu dari garis pantai. Pemecah gelombang dibangun sebagai salah satu bentuk perlindungan pantai terhadap erosi dengan menghancurkan energi gelombang sebelum sampai ke pantai, sehingga terjadi endapan dibelakang bangunan. Endapan ini dapat menghalangi transport sedimen sepanjang pantai.
Pemecah gelombang adalah konstruksi yang direncanakan untuk melindungi daerah atau garis pantai yang terletak di belakangnya dari serangan gelombang. Pemecah gelombang umumnya dibangun sejajar dengan garis pantai. Pemecah gelombang dibedakan menjadi dua, yaitu pemecah gelombang sambung pantai dan lepas pantai.
Perlindungan oleh pemecah gelombang lepas pantai terjadi karena berkurangnya energi gelombang yang sampai di perairan di belakang bangunan sehingga akan mengurangi penarikan dan pengankutan sedimen oleh aksi gelombang di daerah tersebut. Oleh karena itu pasir yang diangkut oleh arus sejajar pantai akan diendapkan di belakang bangunan dan akan membentuk cuspate. Apabila bangunan pemecah pantai ini cukup panjang terhadap jaraknya dari garis pantai, maka akan terbentuk ‘tombolo’.
          Bentuk garis pantai karena adanya pemecah gelombang lepas pantai dipengaruhi oleh pengangkutan sejajar dan tegak lurus pantai. Penempatan pemecah gelombang tersebut akan menyebabkan perubahan garis pantai untuk mencapai keseimbangan baru (http://agus-imam-hamdani.blog.friendster.com/2008/10/perencanaan-bangunan-pengaman-pantai/)
Sebenarnya breakwater atau pemecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama banyak digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan, sedangkan tipe kedua untuk perlindungan pantai terhadap erosi.

4.    REVETMENT
Merupakan bangunan yang memisahkan daratan dan perairan pantai, berfungsi sebagai pelindung pantai terhadap rosi dan limpasan gelombang ke darat, daerah yang dilindungi adalah daerah yang berada tepat dibelakang bangunan.
Untuk revetment, permukaan bangunan yang menghadap arah datanya gelombang berbentuk miring dan ditempatkan sejajar garis pantai (Triatmodjo, 1999)

5.    SEAWALL
Seawall hampir serupa dengn revetment (stuktur pelindung pantai yang dibuat sejajar pantai dan biasanya memiliki permukaan miring), yaitu dibuat sejajar pantai tapi seawall memiliki dinding relatif tegak atau lengkung. Seawall juga dapat dikatakan sebagai dinding banjir yang berfungsi sebagai pelindung/penahan terhadap kekuatan gelombang. Seawall pada umumnya dibuat dari konstruksi padat seperti beton, turap baja/kayu, pasangan batu atau pipa beton sehingga seawall tidak meredam energi gelombang, tetapi gelombang yang memukul permukaan seawall akan dipantulkan kembali dan menyebabkan gerusan pada bagian tumitnya (http://agus-imam-hamdani.blog.friendster.com/2008/10/perencanaan-bangunan-pengaman-pantai/)
gambarnya klik disini

aqua marine_^