***

<FONT FACE="georgia" color="WHITE"> ...selamat membaca...semoga bermanfaat...

Monday, 30 August 2010

Kimia Lingkungan Atmosfer

KIMIA LINGKUNGAN ATMOSFER

PENGARUH LIMBAH LOGAM BERAT INDUSTRI
TERHADAP KUALITAS UDARA

PAPER

Oleh:
SAKINA RUSMA WARDHANI
K2E 008 048

undip.jpg

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2009


Judul Paper         : Pengaruh Limbah Logam Berat Industri Terhadap Kualitas Udara Nusantara
Nama Mahasiswa         : Sakina Rusma Wardhani
NIM                     : K2E 008 048
Jurusan/Prodi      : Ilmu Kelautan/Oseanografi





Mengesahkan :



      Dosen Pengampu


Ir. Sri Yulina Wulandari, MSi
NIP. 131 601 420



Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT , yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesainan tugas paper “Pengaruh Limbah Pertambangan Terhadap Kualitas Udara Nusantara” ini dapat di selesaikan.
            Paper ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keadaan udara Indonesia yang semakin parah keadaannya karena ulah manusia yang ingin mengeruk banyak keuntungan dari berbagai potensi sumber daya alam dari dalam bumi baik di laut maupun di darat tapi banyak yang lupa akan menjaga bumi yang telah banyak berkorban untuk manusia dan berpengaruh bagi kehidupan berbagai makhluk yang hidup di bumi.
            Saya menyadari bahwa penyusunan paper ini masih jauh dari sempurna. karena itu, saran dan kritik demi perbaikan dalam penulisan paper ini sangat diharapkan, semoga paper ini bermanfaat.






Semarang , 31 Maret 2009

Sakina Rusma Wardhani





DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………………………         i
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………………………………………………………..         ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………….         iii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………..         iv
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………………………………….        1
1.1.            Latar Belakang…………………………………………………………………………………..         1
1.2.            Tujuan………………………………………………………………………………………………..        1
Bab II Tinjauan Pustaka……………………………………………………………………………………………..        2
            2.1.      Kasus…………..……………………………………………………………………………………..        2
2.2.      Rumusan Masalah………………………………………………….…………………………..       2
                                    2.2.1. Arsen………………….…………………………………………………………..      3
                                    2.2.2. Timbal….…………………………………………………………………………      3
                                    2.2.3. Tembaga……………….………………………………………………………..      4
Bab III Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………..     8
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………………     9






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Kegiatan pertambangan dalam dua dekade terakhir ini semakin menarik perhatian banyak pihak, khususnya para aktivis gerakan lingkungan hidup dan jaringan LSM advokasi HAM. Hal ini disebabkan adanya paradoks dalam kegiatan eksplorasi pertambangan yang seringkali berbenturan dengan kepentingan konservasi sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan hidup.
Fakta yang paling merisaukan kini adalah dampak buruk berantai dalam jangka panjang. Intensitas dampak eksplorasi pertambangan emas dan tembaga tidak hanya merubah derajat kualitas sumber daya alam dan lingkungan hidup yang merugikan generasi masa kini tetapi juga kerugian bagi generasi yang akan datang. Pelajaran mengajarkan bahwa kegiatan pra-ekplorasi telah memicu deforestation, sebab kandungan emas, tembaga dan mineral berada dalam tanah atau perairan pada kedalaman dan lapisan tertentu dari perut bumi. Selain itu juga dijumpai fakta diberbagai kawasan eksplorasi pertambangan selalu menjadi kantong kemiskinan massif, kemiskinan aktif dan kemiskinan pasif  (Zulkieflimansyah, 2007)
                       
1.2   TUJUAN PENULISAN

1.      Mengetahui bagaimana laut nusantara kita diperlakukan secara tidak bertanggung jawab oleh kegiatan mengambil keuntungn manusia
2.      Mengetahui masalah yang terjadi di dalam perairan laut yang tercemar oleh pertambangan





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kasus
            Akhir-akhir ini kasus keracunan logam berat akibat pencemaran semakin meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh manusia.
            Keberadaan Perusahaan Tambang di Dusun Bensamar ternyata menimbulkan polemik ditengah masyarakat, hal ini tidak lain dikarenakan adanya indikasi pencemaran limbah yang dilakukan oleh salah satu perusahaan tambang yang ada di Dusun Bensamar Kelurahan Loa Ipuh Darat. Susah sejak lama peristiwa ini terjadi, sejak awal berdirinya perusahaan tersebut. Dan masyarakat pun tak bosan-bosannya menuntut kepada pihak perusahaan  untuk penyelesaian masalah limbah tersebut, masyarakat sudah beberapa kali turun melakukan aksi demo di perusahaan tersebut, namun perusahaan tidak juga melakukan upaya penyelesaian yang baik terhadap masalah limbah. (Zulkieflimansyah, 2007)
Berita di atas merupakan fakta yang dihadapi oleh laut Indonesia ditengah maraknya pertambangan yang semakin gencar dengan menggunakan teknologi canggih untuk memberdayakan potensi alam tetapi tidak memikirkan cara yang tepat untuk menyelesaikan buangan limbah secara professional.
            Selain berita di atas juga terdapat banyak berita-berita lain yang menyangkut masalah pencemaran atmosfer akibat pertambangan lainnya.
2.2. Rumusan Masalah
          Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri yang menggunakan logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama saat membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan, Perusahaan dan pabrik industri mengalirkan limbah dan materi-materi kimia lainnya ke udara bebas, hal ini turut berperan besar terhadap pencemaran udara.
            Alam memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi udara yang telah tercemar dengan proses pemurnian atau purifikasi alami dengan jalan pemurnian tanah, pasir, bebatuan, tumbuhan laut dan mikro organisme yang ada di alam sekitar kita.
Jumlah pencemaran yang sangat masal dari pihak manusia membuat alam tidak mampu mengembalikan kondisi ke seperti semula. Alam menjadi kehilangan kemampuan untuk memurnikan pencemaran yang terjadi. Bahan-bahan pencemar, limbah logam berat dan sebagainya yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperparah kondisi pengrusakan alam yang kian hari kian bertambah parah.
Sesungguhnya, istilah logam berat hanya ditujukan kepada logam yang mempunyai berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Namun, pada kenyataannya, unsur-unsur metaloid yang mempunyai sifat berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Dengan demikian, yang termasuk ke dalam kriteria logam berat saat ini mencapai lebih kurang 40 jenis unsur. Beberapa contoh logam berat yang beracun bagi manusia adalah: arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), dan seng (Zn). ( Anonim, 2007)
            Dari berbagai limbah tersebut, umumnya yang paling banyak mengandung logam berat adalah limbah industri. Hal ini disebabkan senyawa atau unsur logam berat dimanfaatkan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku, katalisator, maupun sebagai bahan tambahan. Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya adalah karena sifatnya yang tidak dapat dihancurkan (nondegradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan. Akibatnya, logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara adsorbsi dan kombinasi.
Berikut ini merupakan penjelasan tentang berbagai jenis logam berat yang terdapat pada limbah industri.
2.2.1. Arsen
Arsen (As) atau sering disebut arsenik adalah suatu zat kimia yang ditemukan sekitar abad-13. Sebagian besar arsen di alam merupakan bentuk senyawa dasar yang berupa substansi inorganik. Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan terpapar pada manusia. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen inorganik bertanggung jawab terhadap berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama kanker. Arsen juga dapat merusak ginjal dan bersifat racun yang sangat kuat.
2.2.2. Timbal
Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari pertambangan.
Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering disebut galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh dunia. Bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.  
Menurut Darmono (1995), Pb mempunyai sifat bertitik lebur rendah, mudah dibentuk, mempunyai sifat kimia yang aktif, sehingga dapat digunakan untuk melapisi logam untuk mencegah perkaratan. Bila dicampur dengan logam lain, membentuk logam campuran yang lebih bagus daripada logam murninya, mempunyai kepadatan melebihi logam lain.
Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai zat pewarna), penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat antiletup pada bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai banyak kemungkinan kontak dengan Pb (Saeni, 1997).
Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut.
Sumber kontaminan timbal (Pb) terbesar dari buatan manusia adalah bensin beraditif timbal untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Diperkirakan 65 persen dari semua pencemaran udara disebabkan emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor
2.2.4. Tembaga
Tidak seperti logam-logam Pb, dan Cd, logam tembaga (Cu) merupakan mikroelemen esensial untuk semua tanaman dan hewan, termasuk manusia. Logam Cu diperlukan oleh berbagai sistem enzim di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Cu harus selalu ada di dalam makanan. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga agar kadar Cu di dalam tubuh tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan.
Kebutuhan tubuh per hari akan Cu adalah 0,05 mg/kg berat badan. Pada kadar tersebut tidak terjadi akumulasi Cu pada tubuh manusia normal. Konsumsi Cu dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan gejala-gejala yang akut.
Logam Cu yang digunakan di pabrik biasanya berbentuk organik dan anorganik. Logam tersebut digunakan di pabrik yang memproduksi alat-alat listrik, gelas, dan zat warna yang biasanya bercampur dengan logam lain seperti alloi dengan Ag, Cd, Sn, dan Zn.
Garam Cu banyak digunakan dalam bidang pertanian, misalnya sebagai larutan “Bordeaux” yang mengandung 1-3% CuSO4 untuk membasmi jamur pada sayur dan tumbuhan buah. Senyawa CuSO4 juga sering digunakan untuk membasmi siput sebagai inang dari parasit, cacing, dan juga mengobati penyakit kuku pada domba (Darmono, 1995).
            Kandungan alamiah logam pada lingkungan dapat berubah-ubah, tergantung pada kadar pencemaran oleh ulah manusia atau perubahan alam, seperti erosi. Kandungan logam tersebut dapat meningkat bila limbah perkotaan, pertambangan, pertanian, dan perindustrian yang banyak mengandung logam berat masuk ke lingkungan.
Dari berbagai limbah tersebut, umumnya yang paling banyak mengandung logam berat adalah limbah industri. Hal ini disebabkan senyawa atau unsur logam berat dimanfaatkan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku, katalisator, maupun sebagai bahan tambahan.
Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya adalah karena sifatnya yang tidak dapat dihancurkan (nondegradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan. Akibatnya, logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara adsorbsi dan kombinasi. (Anonim, 2007)
Terlihat jelas bahwa limbah yang tak dikelola dengan baik akan berdampak buruk tidak hanya bagi ekosistem darat melainkan juga manusia sebagai aktor utamanya, entah bagaimana caranya limbah tersebut akan dapat masuk ke tubuh manusia, berikut ini merupakan beberapa jalan masuk limbah pertambangan ke dalam tubuh manusia dengan perantara udara.
Manusia bukan hanya menderita sakit karena menghirup udara yang tercemar, tetapi juga akibat mengasup makanan yang tercemar logam berat. Sumbernya sayur-sayuran dan buah-buahan yang ditanam di lingkungan yang tercemar atau daging dari ternak yang makan rumput yang sudah mengandung logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Akhir-akhir ini kasus keracunan logam berat yang berasal dari bahan pangan semakin meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh manusia.
Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri yang menggunakan logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama saat membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan (air, tanah, dan udara).
Sumber utama kontaminan logam berat sesungguhnya berasal dari udara dan air yang mencemari tanah. Selanjutnya semua tanaman yang tumbuh di atas tanah yang telah tercemar akan mengakumulasikan logam-logam tersebut pada semua bagian (akar, batang, daun dan buah).
Ternak akan memanen logam-logam berat yang ada pada tanaman dan menumpuknya pada bagian-bagian dagingnya. Selanjutnya manusia yang termasuk ke dalam kelompok omnivora (pemakan segalanya), akan tercemar logam tersebut dari empat sumber utama, yaitu udara yang dihirup saat bernapas, air minum, tanaman (sayuran dan buah-buahan), serta ternak (berupa daging, telur, dan susu).
Logam berat dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar pada tanaman seperti padi, rumput, beberapa jenis leguminosa untuk pakan ternak, dan sayuran. Logam berat seperti Pb, Cd, Cu, dan Zn sering terakumulasi pada komoditi tanaman. Kandungan merkuri pada beras yang dipanen dari sawah dengan irigasi air limbah penambangan emas tradisional di Nunggul dan Kalongliud sekitar Pongkor, Bogor, Jawa Barat, masing-masing mencapai 0,45 dan 0,25 ppm (Sutono, 2002).
Sumber bahan pangan lain yang dilaporkan tinggi kadar timbalnya adalah makanan kaleng (50-100 mkg/kg), jeroan terutama hati dan ginjal ternak (150 mkg/kg), ikan (170 mkg/kg). Kelompok yang paling tinggi adalah kerang-kerangan (molusca) dan udang-udangan (crustacea), yaitu rata-rata lebih tinggi dari 250 mkg/kg (Winarno dan Rahayu, 1994).
Jenis bahan pangan lain yang mengandung kontaminan timbal cukup tinggi adalah sayuran yang ditanam di tepi jalan raya. Kandungan rata-ratanya sebesar 28,78 ppm, jauh di atas batas aman yang diizinkan Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan, yaitu sebesar 2 ppm (Winarno, 1997).
Cemaran tembaga (Cu) terdapat pada sayuran dan buah-buahan yang disemprot dengan pestisida secara berlebihan. Penyemprotan pestisida banyak dilakukan untuk membasmi siput dan cacing pada tanaman sayur dan buah.
Logam berat di dalam bahan pangan ternyata tidak hanya terdapat secara alami, namun juga dapat merupakan hasil migrasi dari bahan pengemasnya. Oleh karena itu, pengemasan bahan pangan harus dilakukan secara hati-hati. Pengemasan makanan dengan menggunakan kertas koran bekas tentu tidak tepat karena memungkinkan terjadinya migrasi logam berat (terutama Pb) dari tinta pada koran ke makanan. Pengemasan makanan dengan bahan yang memiliki aroma kuat, seperti PVC (Poly Vinyl Chloride) dan styrofoam, memungkinkan terjadinya migrasi arsen ke makanan.
Akhirnya kasus keracunan logam berat yang berasal dari bahan pangan semakin meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh manusia.
Masih banyak cara polutan logam berat tersebut untuk masuk kedalam tubuh manusia, tiak hanya melalui perairan melainkan melalui tanah ataupun daratan sebagai medianya, banyak petunjuk keberadaan logam berat seperti peralatan canggih ataupun dengan makhluk hidup di sekitar lingkungan kita atau biasa disebut bioindikator yang terdapat di darat, air maupun udara.
















BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
1.      Kontaminasi udara Indonesia terhadap bahan pencemar sudah sangat parah dengan berbagai kasus yang ada.
2.      Pengaruh limbah logam berat dari pertambangan harus ditangani secara professional dan dilakukan secara hati-hati.
3.      Logam berat yang dikelola secara sembarangan dapat merusak segala aspek kehidupan.

























DAFTAR PUSTAKA


Rochman, Dedi M.2006.Intisari Biologi, Jakarta, Pustaka Baru, 432 hlm.

Anonim.2008. Kampanye Tambang, http://www.walhi.or.id

Hendrawill.2008.Tambang Bauksit. http://www.kaskus.us (5 Januari 2009)

Anonim.2008.Tambang Pasir Besi. http://www.pc.pmii-kukar.co.id (21 Oktober 2008)

Anonim.2007.Cerita Laut. http://www.tentanglautku.com

Indra, Rohmat. 2008. Ancaman Bahaya Bagi Ekosistem Laut. http://www.lingkungandamai.com (7 Februari 2008)








No comments:

Post a Comment

aioo... kritik, saran, dan tanggapan diperlukaann... tapi yang positive dan menuju ke arah yang lebih baikk yaa... salam kenal..