***

<FONT FACE="georgia" color="WHITE"> ...selamat membaca...semoga bermanfaat...

Monday, 30 August 2010

Kimia Lingkungan Atmosfer

KIMIA LINGKUNGAN ATMOSFER

PENGARUH LIMBAH LOGAM BERAT INDUSTRI
TERHADAP KUALITAS UDARA

PAPER

Oleh:
SAKINA RUSMA WARDHANI
K2E 008 048

undip.jpg

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2009


Judul Paper         : Pengaruh Limbah Logam Berat Industri Terhadap Kualitas Udara Nusantara
Nama Mahasiswa         : Sakina Rusma Wardhani
NIM                     : K2E 008 048
Jurusan/Prodi      : Ilmu Kelautan/Oseanografi





Mengesahkan :



      Dosen Pengampu


Ir. Sri Yulina Wulandari, MSi
NIP. 131 601 420



Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT , yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesainan tugas paper “Pengaruh Limbah Pertambangan Terhadap Kualitas Udara Nusantara” ini dapat di selesaikan.
            Paper ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keadaan udara Indonesia yang semakin parah keadaannya karena ulah manusia yang ingin mengeruk banyak keuntungan dari berbagai potensi sumber daya alam dari dalam bumi baik di laut maupun di darat tapi banyak yang lupa akan menjaga bumi yang telah banyak berkorban untuk manusia dan berpengaruh bagi kehidupan berbagai makhluk yang hidup di bumi.
            Saya menyadari bahwa penyusunan paper ini masih jauh dari sempurna. karena itu, saran dan kritik demi perbaikan dalam penulisan paper ini sangat diharapkan, semoga paper ini bermanfaat.






Semarang , 31 Maret 2009

Sakina Rusma Wardhani





DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………………………         i
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………………………………………………………..         ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………….         iii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………..         iv
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………………………………….        1
1.1.            Latar Belakang…………………………………………………………………………………..         1
1.2.            Tujuan………………………………………………………………………………………………..        1
Bab II Tinjauan Pustaka……………………………………………………………………………………………..        2
            2.1.      Kasus…………..……………………………………………………………………………………..        2
2.2.      Rumusan Masalah………………………………………………….…………………………..       2
                                    2.2.1. Arsen………………….…………………………………………………………..      3
                                    2.2.2. Timbal….…………………………………………………………………………      3
                                    2.2.3. Tembaga……………….………………………………………………………..      4
Bab III Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………..     8
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………………     9






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Kegiatan pertambangan dalam dua dekade terakhir ini semakin menarik perhatian banyak pihak, khususnya para aktivis gerakan lingkungan hidup dan jaringan LSM advokasi HAM. Hal ini disebabkan adanya paradoks dalam kegiatan eksplorasi pertambangan yang seringkali berbenturan dengan kepentingan konservasi sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan hidup.
Fakta yang paling merisaukan kini adalah dampak buruk berantai dalam jangka panjang. Intensitas dampak eksplorasi pertambangan emas dan tembaga tidak hanya merubah derajat kualitas sumber daya alam dan lingkungan hidup yang merugikan generasi masa kini tetapi juga kerugian bagi generasi yang akan datang. Pelajaran mengajarkan bahwa kegiatan pra-ekplorasi telah memicu deforestation, sebab kandungan emas, tembaga dan mineral berada dalam tanah atau perairan pada kedalaman dan lapisan tertentu dari perut bumi. Selain itu juga dijumpai fakta diberbagai kawasan eksplorasi pertambangan selalu menjadi kantong kemiskinan massif, kemiskinan aktif dan kemiskinan pasif  (Zulkieflimansyah, 2007)
                       
1.2   TUJUAN PENULISAN

1.      Mengetahui bagaimana laut nusantara kita diperlakukan secara tidak bertanggung jawab oleh kegiatan mengambil keuntungn manusia
2.      Mengetahui masalah yang terjadi di dalam perairan laut yang tercemar oleh pertambangan





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kasus
            Akhir-akhir ini kasus keracunan logam berat akibat pencemaran semakin meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh manusia.
            Keberadaan Perusahaan Tambang di Dusun Bensamar ternyata menimbulkan polemik ditengah masyarakat, hal ini tidak lain dikarenakan adanya indikasi pencemaran limbah yang dilakukan oleh salah satu perusahaan tambang yang ada di Dusun Bensamar Kelurahan Loa Ipuh Darat. Susah sejak lama peristiwa ini terjadi, sejak awal berdirinya perusahaan tersebut. Dan masyarakat pun tak bosan-bosannya menuntut kepada pihak perusahaan  untuk penyelesaian masalah limbah tersebut, masyarakat sudah beberapa kali turun melakukan aksi demo di perusahaan tersebut, namun perusahaan tidak juga melakukan upaya penyelesaian yang baik terhadap masalah limbah. (Zulkieflimansyah, 2007)
Berita di atas merupakan fakta yang dihadapi oleh laut Indonesia ditengah maraknya pertambangan yang semakin gencar dengan menggunakan teknologi canggih untuk memberdayakan potensi alam tetapi tidak memikirkan cara yang tepat untuk menyelesaikan buangan limbah secara professional.
            Selain berita di atas juga terdapat banyak berita-berita lain yang menyangkut masalah pencemaran atmosfer akibat pertambangan lainnya.
2.2. Rumusan Masalah
          Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri yang menggunakan logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama saat membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan, Perusahaan dan pabrik industri mengalirkan limbah dan materi-materi kimia lainnya ke udara bebas, hal ini turut berperan besar terhadap pencemaran udara.
            Alam memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi udara yang telah tercemar dengan proses pemurnian atau purifikasi alami dengan jalan pemurnian tanah, pasir, bebatuan, tumbuhan laut dan mikro organisme yang ada di alam sekitar kita.
Jumlah pencemaran yang sangat masal dari pihak manusia membuat alam tidak mampu mengembalikan kondisi ke seperti semula. Alam menjadi kehilangan kemampuan untuk memurnikan pencemaran yang terjadi. Bahan-bahan pencemar, limbah logam berat dan sebagainya yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperparah kondisi pengrusakan alam yang kian hari kian bertambah parah.
Sesungguhnya, istilah logam berat hanya ditujukan kepada logam yang mempunyai berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Namun, pada kenyataannya, unsur-unsur metaloid yang mempunyai sifat berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Dengan demikian, yang termasuk ke dalam kriteria logam berat saat ini mencapai lebih kurang 40 jenis unsur. Beberapa contoh logam berat yang beracun bagi manusia adalah: arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), dan seng (Zn). ( Anonim, 2007)
            Dari berbagai limbah tersebut, umumnya yang paling banyak mengandung logam berat adalah limbah industri. Hal ini disebabkan senyawa atau unsur logam berat dimanfaatkan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku, katalisator, maupun sebagai bahan tambahan. Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya adalah karena sifatnya yang tidak dapat dihancurkan (nondegradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan. Akibatnya, logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara adsorbsi dan kombinasi.
Berikut ini merupakan penjelasan tentang berbagai jenis logam berat yang terdapat pada limbah industri.
2.2.1. Arsen
Arsen (As) atau sering disebut arsenik adalah suatu zat kimia yang ditemukan sekitar abad-13. Sebagian besar arsen di alam merupakan bentuk senyawa dasar yang berupa substansi inorganik. Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan terpapar pada manusia. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen inorganik bertanggung jawab terhadap berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama kanker. Arsen juga dapat merusak ginjal dan bersifat racun yang sangat kuat.
2.2.2. Timbal
Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari pertambangan.
Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering disebut galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh dunia. Bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.  
Menurut Darmono (1995), Pb mempunyai sifat bertitik lebur rendah, mudah dibentuk, mempunyai sifat kimia yang aktif, sehingga dapat digunakan untuk melapisi logam untuk mencegah perkaratan. Bila dicampur dengan logam lain, membentuk logam campuran yang lebih bagus daripada logam murninya, mempunyai kepadatan melebihi logam lain.
Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai zat pewarna), penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat antiletup pada bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai banyak kemungkinan kontak dengan Pb (Saeni, 1997).
Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman. Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut.
Sumber kontaminan timbal (Pb) terbesar dari buatan manusia adalah bensin beraditif timbal untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Diperkirakan 65 persen dari semua pencemaran udara disebabkan emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor
2.2.4. Tembaga
Tidak seperti logam-logam Pb, dan Cd, logam tembaga (Cu) merupakan mikroelemen esensial untuk semua tanaman dan hewan, termasuk manusia. Logam Cu diperlukan oleh berbagai sistem enzim di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Cu harus selalu ada di dalam makanan. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga agar kadar Cu di dalam tubuh tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan.
Kebutuhan tubuh per hari akan Cu adalah 0,05 mg/kg berat badan. Pada kadar tersebut tidak terjadi akumulasi Cu pada tubuh manusia normal. Konsumsi Cu dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan gejala-gejala yang akut.
Logam Cu yang digunakan di pabrik biasanya berbentuk organik dan anorganik. Logam tersebut digunakan di pabrik yang memproduksi alat-alat listrik, gelas, dan zat warna yang biasanya bercampur dengan logam lain seperti alloi dengan Ag, Cd, Sn, dan Zn.
Garam Cu banyak digunakan dalam bidang pertanian, misalnya sebagai larutan “Bordeaux” yang mengandung 1-3% CuSO4 untuk membasmi jamur pada sayur dan tumbuhan buah. Senyawa CuSO4 juga sering digunakan untuk membasmi siput sebagai inang dari parasit, cacing, dan juga mengobati penyakit kuku pada domba (Darmono, 1995).
            Kandungan alamiah logam pada lingkungan dapat berubah-ubah, tergantung pada kadar pencemaran oleh ulah manusia atau perubahan alam, seperti erosi. Kandungan logam tersebut dapat meningkat bila limbah perkotaan, pertambangan, pertanian, dan perindustrian yang banyak mengandung logam berat masuk ke lingkungan.
Dari berbagai limbah tersebut, umumnya yang paling banyak mengandung logam berat adalah limbah industri. Hal ini disebabkan senyawa atau unsur logam berat dimanfaatkan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku, katalisator, maupun sebagai bahan tambahan.
Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya adalah karena sifatnya yang tidak dapat dihancurkan (nondegradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan. Akibatnya, logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara adsorbsi dan kombinasi. (Anonim, 2007)
Terlihat jelas bahwa limbah yang tak dikelola dengan baik akan berdampak buruk tidak hanya bagi ekosistem darat melainkan juga manusia sebagai aktor utamanya, entah bagaimana caranya limbah tersebut akan dapat masuk ke tubuh manusia, berikut ini merupakan beberapa jalan masuk limbah pertambangan ke dalam tubuh manusia dengan perantara udara.
Manusia bukan hanya menderita sakit karena menghirup udara yang tercemar, tetapi juga akibat mengasup makanan yang tercemar logam berat. Sumbernya sayur-sayuran dan buah-buahan yang ditanam di lingkungan yang tercemar atau daging dari ternak yang makan rumput yang sudah mengandung logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Akhir-akhir ini kasus keracunan logam berat yang berasal dari bahan pangan semakin meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh manusia.
Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri yang menggunakan logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama saat membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan (air, tanah, dan udara).
Sumber utama kontaminan logam berat sesungguhnya berasal dari udara dan air yang mencemari tanah. Selanjutnya semua tanaman yang tumbuh di atas tanah yang telah tercemar akan mengakumulasikan logam-logam tersebut pada semua bagian (akar, batang, daun dan buah).
Ternak akan memanen logam-logam berat yang ada pada tanaman dan menumpuknya pada bagian-bagian dagingnya. Selanjutnya manusia yang termasuk ke dalam kelompok omnivora (pemakan segalanya), akan tercemar logam tersebut dari empat sumber utama, yaitu udara yang dihirup saat bernapas, air minum, tanaman (sayuran dan buah-buahan), serta ternak (berupa daging, telur, dan susu).
Logam berat dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar pada tanaman seperti padi, rumput, beberapa jenis leguminosa untuk pakan ternak, dan sayuran. Logam berat seperti Pb, Cd, Cu, dan Zn sering terakumulasi pada komoditi tanaman. Kandungan merkuri pada beras yang dipanen dari sawah dengan irigasi air limbah penambangan emas tradisional di Nunggul dan Kalongliud sekitar Pongkor, Bogor, Jawa Barat, masing-masing mencapai 0,45 dan 0,25 ppm (Sutono, 2002).
Sumber bahan pangan lain yang dilaporkan tinggi kadar timbalnya adalah makanan kaleng (50-100 mkg/kg), jeroan terutama hati dan ginjal ternak (150 mkg/kg), ikan (170 mkg/kg). Kelompok yang paling tinggi adalah kerang-kerangan (molusca) dan udang-udangan (crustacea), yaitu rata-rata lebih tinggi dari 250 mkg/kg (Winarno dan Rahayu, 1994).
Jenis bahan pangan lain yang mengandung kontaminan timbal cukup tinggi adalah sayuran yang ditanam di tepi jalan raya. Kandungan rata-ratanya sebesar 28,78 ppm, jauh di atas batas aman yang diizinkan Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan, yaitu sebesar 2 ppm (Winarno, 1997).
Cemaran tembaga (Cu) terdapat pada sayuran dan buah-buahan yang disemprot dengan pestisida secara berlebihan. Penyemprotan pestisida banyak dilakukan untuk membasmi siput dan cacing pada tanaman sayur dan buah.
Logam berat di dalam bahan pangan ternyata tidak hanya terdapat secara alami, namun juga dapat merupakan hasil migrasi dari bahan pengemasnya. Oleh karena itu, pengemasan bahan pangan harus dilakukan secara hati-hati. Pengemasan makanan dengan menggunakan kertas koran bekas tentu tidak tepat karena memungkinkan terjadinya migrasi logam berat (terutama Pb) dari tinta pada koran ke makanan. Pengemasan makanan dengan bahan yang memiliki aroma kuat, seperti PVC (Poly Vinyl Chloride) dan styrofoam, memungkinkan terjadinya migrasi arsen ke makanan.
Akhirnya kasus keracunan logam berat yang berasal dari bahan pangan semakin meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh manusia.
Masih banyak cara polutan logam berat tersebut untuk masuk kedalam tubuh manusia, tiak hanya melalui perairan melainkan melalui tanah ataupun daratan sebagai medianya, banyak petunjuk keberadaan logam berat seperti peralatan canggih ataupun dengan makhluk hidup di sekitar lingkungan kita atau biasa disebut bioindikator yang terdapat di darat, air maupun udara.
















BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
1.      Kontaminasi udara Indonesia terhadap bahan pencemar sudah sangat parah dengan berbagai kasus yang ada.
2.      Pengaruh limbah logam berat dari pertambangan harus ditangani secara professional dan dilakukan secara hati-hati.
3.      Logam berat yang dikelola secara sembarangan dapat merusak segala aspek kehidupan.

























DAFTAR PUSTAKA


Rochman, Dedi M.2006.Intisari Biologi, Jakarta, Pustaka Baru, 432 hlm.

Anonim.2008. Kampanye Tambang, http://www.walhi.or.id

Hendrawill.2008.Tambang Bauksit. http://www.kaskus.us (5 Januari 2009)

Anonim.2008.Tambang Pasir Besi. http://www.pc.pmii-kukar.co.id (21 Oktober 2008)

Anonim.2007.Cerita Laut. http://www.tentanglautku.com

Indra, Rohmat. 2008. Ancaman Bahaya Bagi Ekosistem Laut. http://www.lingkungandamai.com (7 Februari 2008)








waktu mentoring...



ﺒﺴﻢﺃﷲﺃﻠﺮﺤﻤﻦﺃﻠﺮﺤﻴﻢ
Permasalahan Umat Islam Masa Kini dan Solusinya

            Jika kita perhatikan keadaan umat muslim sekarang terlihat sangat berbeda dengan kisah-kisah umat muslim terdahulu yang penuh perjuangan dalam membela umat Islam.dengan segala jerih payah mereka,tak hanya peluh tapi juga cucuran darah bahkan nyawa pun mereka pertaruhkan demi agama Allah, semua itu mereka lakukan dengan penuh rasa keikhlasan dan tanggung jawab atas keyakinan.
Sungguh sangat berbeda dengan keadaan kita yang segalanya dapat dengan mudah di dapatkan,kalau mau belajar kita bisa datang ke sekolah tanpa harus takut ada perang yang menanti di depan sana, kalau mau sholat kita bisa ke masjid atau musholla dengan tenang tanpa takut akan ada sesuatu yang menimpa kita selama perjalanan maupun saat sholat.
Tapi walau begitu masih saja banyak para penimba ilmu yang malas belajar, dan bila tiba waktu sholat masih banyak juga muslim yang berkeliaran di jalan-jalan bak kucing nganggur, “toh semua udah ada,,,lagipula ini hidup gw…terserah gw donk mau ngapain aja..!!! apa urusan lu???” mungkin begitu jawaban mereka ketika di nasihati dalam kebaikan.naudzubillah
Segala kemudahan yang kita dapatkan sekarang tak lepas dari para pejuang Islam terdahulu yang rela mati karena membela agama Allah,tapi terlihat sekarang bahwa kemudahan-kemudahan itu justru membuat umat muslim yang dahulu terkenal karena kehebatannya kini terkulai lemas karena terlena dengan kemudahan yang di berikan.
Apakah yang terjadi dengan umat Islam masa kini???
Terlihat disini bahwa umat Islam sekarang kehilangan identitas sebagai muslim ,muslim dahulu terkenal sangat bekerja keras dan pantang menyerah terhadap segala serangan mental maupun fisik, lalu bagaimanakah kita sebagai umat Muslim saat ini yang hanya dapat melihat kejayaan orang lain dengan penemuan yang ia dapatkan dan kita hanya ikut menikmatinya tanpa mau tahu apa yang akan mereka produksi lagi dan apa yang akan kita nikmati lagi dari keberhasilan penemuan mereka.
Padahal sangat banyak tokoh dan penemu yang terkenal dari kalangan cendikiawan muslim yang berhasil pada masanya, dan kita sekarang tak lagi mau seperti mereka, kita yang sekarang hanya ongkang-ongkang kaki untuk menikmati hasil penemuan lain dan segera menikmatinya.
Kita telah kehilangan identitas sebagai muslim yang bekerja keras.
Para pendahulu kita dengan mudahnya ikhlas dengan apa yang diperintah Allah dan Rasulnya, walau itu merugikan mereka di dunia,lihat saja Abdurrahman bin Auf yang merelakan semua hartanya untuk berjuang di jalan Allah,padahal hartanya begitu melimpah
Tapi kita disini hanya mampu mengumpulkan harta sebanyak mungkin tapi lupa apa yang harus dilakukan ketika harta itu telah terkumpul banyak,kita tak mau rugi sama sekali berdasarka perhitungan kita di duni, padahal jika kita mau mengikuti jejak para sahabat Rasul sebenarnya kita akan mengambil keuntungan yang kekal kelak di akhirat nanti, toh juga harta tak akan dibawa mati
udah susah gw kumpulin duit masa’ gw kasih ke orang yang dengan gampangnya minta terus gw kasih..gag akan!!!” naudzubillah
Para wanita juga dahulu dengan sangat istiqomah menutup aurat mereka dengan jilbabnya yang panjang, secantik apapun wanita itu maka ia akan rela menutup auratnya hanya karena Allah semata
Wanita sekarang yang dengan sanat bangga memamerkan aurat mereka bahkan sampai meliukkan tubuh mereka dengan alasan seni dan eksotika,apa jadinya para wanita yang seperti ini nantinya, padahal wanita adalah dasar dari semua aspek kehidupan manusia,dari moral,budaya,social sampai politik pun ada pada diri wanita.
Wanita modern sekarang malah sudah malu menutup aurat mereka karena alasan murahan yang sebenarnya lebih mahal aurat kita di banding alasan-alasan tersebut.” Masih jadul aja lu!!!liat dong di sana!!!ceweknya cantik-cantik karena mereka pake baju yang ketat biar kelihatan seksi,,,udah ganti tu baju…gerah ni gw liatnya !!!
Jika sudah begini para wanitanya maka apa yang akan terjadi dengan kehidupan di masa yang akan dating dengan segala serangan-serangan liberal yang semakin gencar dilaksanakan.
Kita telah kehilangan identitas sebagai muslim yang taat dan bertakwa pada Allah
Mungkin dari dua kesimpulan kecil di atas sudah dapat dibanyangkan sendiri contoh-contoh lainya yang ada di benak Anda. Dan mungkin Anda sudah mengetahui apa solusi yang mungkin dari permasalahan tersebut.
Pada artikel inipun saya juga akan member pendapat tentang solusi yang dapat dilakukan para Muslim modern dalam menghadapi masalah tersebut diatas.
Kita telah kehilangan identitas sebagai muslim yang bekerja keras:
-          Meyakini dengan sepenuh hati bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan memberikan rasa tersendiri setelah melakukannya.
-          Yakin bahwa kita bisa melakukan lebih dari apa yang mereka lakukan dan kita bisa mengulang kembali kejayaan Islam dengan cara kita sendiri
-          Jangan selalu berpangku tangan dalam menhadapi kehidupan yang semakin maju
-          Harus selalu terus balajar tentang apapun, dan jangan sekali-kali menutup mata tentang apa yang telah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan kita sebelum semuanya sia-sia
-          Always positive thinking than we can do it!!!!
-          Selalu belajar dari pengalaman masa lalu
-          Menumbuhkan rasa ingin maju dan tak ingin tergerus zaman tapi masih dalam batasan yang elah di tentukan dalam islam
-          Tergantung niat……..

Kita telah kehilangan identitas sebagai Muslim yang taat dan takwa pada Allah:
-          Perbanyak ibadah karena dapat mendekatkan diri pada Sang Khalik
-          Perbanyak pengetahuan tentang Islam
-          Perbanyak sodaqoh karena dapat membersihkan harta dan jiwa
-          Berusaha sebisa mungkin untuk tetap istiqomah dalam kebenaran
-          Berazzam dalam tindakan yang baik
-          Mengetahui mana yang baik dan yang buruk,karena itu sebagai Muslim harus pintar dan cerdas
-          Mengetahui seluk beluk dunia
-          Menjaga hubungan baik antara manusia

Nah sekarang semua tergantung Anda, mau memiliki identitas yang jelas sebagai muslim atau tidak , silahkan memilih…


Choose Your Best Way ………………………………………….



                                                            Any Question????????

Kimia Lingkungan Tanah

KIMIA LINGKUNGAN TANAH

PROSES DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK
DALAM PERAIRAN LAUT DAN PERANANNYA BAGI EKOSISTEM LAUT

PAPER

Oleh:
SAKINA RUSMA WARDHANI
K2E 008 048

undip.jpg

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2009


Judul Paper         : Proses Dekomposisi Bahan Organik Dalam Perairan Laut Dan Peranannya Bagi Ekosistem Laut
Nama Mahasiswa         : Sakina Rusma Wardhani
NIM                     : K2E 008 048
Jurusan/Prodi      : Ilmu Kelautan/Oseanografi





Mengesahkan :



      Dosen Pengampu


          Ir. Dr. Muslim, Msc
  NIP. 131 683 792



Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT , yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesainan tugas paper “Proses Dekomposisi Bahan Oraganik Dalam Perairan Laut Dan Peranannya Bagi Ekosistem Laut” ini dapat di selesaikan.
            Paper ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana proses penguraian di sekitar laut terjadi,bagaimana prosesnya, siapa yang melakukan dan apa fungsinya untuk ekosistem laut, dengan demikian kita sebagai manusia harus belajar memahami lebih perairan dan segala proses yang terjadi agar dapat memanfaatkan perairan dengan optimal, maksimal dan tan tanpa merusak..
            Saya menyadari bahwa penyusunan paper ini masih jauh dari sempurna. karena itu, saran dan kritik demi perbaikan dalam penulisan paper ini sangat diharapkan, semoga paper ini bermanfaat.






Semarang , 31 Maret 2009

Sakina Rusma Wardhani





DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………………………         i
LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………………………………………………………..         ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………….         iii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………..         iv
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………………………………….        1
1.1.            Latar Belakang…………………………………………………………………………………..         1
1.2.            Tujuan……………………………………………………………………………………………….         1
Bab II Tinjauan Pustaka……………………………………………………………………………………………..        2
            2.1.      Pengertian Proses Dekomposisi………………………………………………………..         2
2.2.      Faktor Berpengaruh Pada Proses Dekomposisi………….….…………………..         2
                                    2.2.1    Oksigen..……….…………………………………………………………..         3
                                    2.2.2    Bahan Organik...............................................................         3
                                    2.2.3    Bakteri...........................................................................          4
            2.3.      Proses Dekomposisi..............................................................................          4
Bab III Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………..     6
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………………………………………     7





BAB I
PENDAHULUAN
1.1             LATAR BELAKANG
Pada ekosistem perairan alami, siklus produksi dimulai oleh produsen. Produsen adalah organisme autotrof yang mampu mensintesa bahan organik yang berasal dari bahan anorganik melalui proses fotosintesis (beberapa jenis bakteri melakukan kemosintesis) dengan bantuan cahaya matahari. Produsen utama pada ekosistem perairan adalah fitoplankton. Pada perairan alami sumber bahan anorganik berasal dari proses dekomposisi yang merubah bahan organik mejadi bahan anorganik. (Anonim, 2008)
Sebagai suatu ekosistem, perairan memiliki komponen-komponen sebagai mana ekosistem lain yaitu komponen biotik dan abiotik. Pada ekosistem perairan komponen biotik yang berperan adalah tumbuhan hijau sebagai produsen, bermacam-macam kelompok hewan sebagai konsumen, dan bakteri serta fungi sebagai dekomposer (Collier, et al. 1973). Pada prinsipnya ada tiga proses dasar yang menyusun komponen biotik pada suatu ekosistem tersebut yaitu (a) proses produksi, (b) proses konsumsi, dan (c) proses dekomposisi. Proses-proses tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Komponen abiotik meliputi unsur dan senyawa anorganik, bahan organik dan parameter lingkungan berupa temperatur, oksigen, nutrien dan faktor fisik lain yang membatasi kondisi kehidupan. Keterkaitan antar komponen-komponen tersebut sangat erat, ekosistem akan selalu terjaga bila komponen baik biotik maupun abiotik tetap berada pada kondisi stabil-dinamis. (Sunarto, 2003)

1.2              TUJUAN PENULISAN

  1. Mengetahui pengertian proses dekomposisi dan segala faktornya
  2. Mengetahui peran dan manfaat proses dekomposisi bagi ekosistem laut






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1           Pengertian Proses Dekomposisi
Ada beberapa definisi yang dikemukakan tentang dekomposisi antara lain dekomposisi didefinisikan sebagai penghancuran bahan organik mati secara gradual yang dilakukan oleh agen biologi maupun fisika (Begon, 1990). Dekomposisi bahan organik dipandang sebagai reduksi komponen – komponen organik dengan berat molekul yang lebih tinggi menjadi komponen dengan berat molekul yang lebih rendah melalui mekanisme enzimatik (Saunder, 1980). Sejalan dengan Begon (1990) dan Saunder (1980), Smith (1980) menyatakan bahwa proses dekomposisi adalah gabungan dari proses fragmentasi, perubahan struktur fisik dan kegiatan enzim yang dilakukan oleh dekomposer yang merubah bahan organik menjadi senyawa anorganik. Definisi-definisi tersebut menggambarkan bahwa proses dekomposisi bukan saja dilakukan oleh agen biologis seperti bakteri tetapi juga melibatkan agen-agen fisika. Proses dekomposisi dimulai dari proses penghancuran/fragmentasi atau pemecahan struktur fisik yang mungkin dilakukan oleh hewan pemakan bangkai (scavenger) terhadap hewan-hewan mati atau oleh hewan-hewan herbivora terhadap tumbuhan dan menyisakannya sebagai bahan organik mati yang selanjutnya menjadi serasah, debris atau detritus dengan ukuran yang lebih kecil. Proses fisika dilanjutkan dengan proses biologi dengan bekerjanya bakteri yang melakukan penghancuran secara enzimatik terhadap partikel-partikel organik hasil proses fragmentasi. Proses dekomposisi oleh bakteri dimulai dengan kolonisasi bahan organik mati oleh bakteri yang mampu mengautolisis jaringan mati melalui mekanisme enzimatik. Dekomposer mengeluarkan enzim yang menghancurkan molekul-molekul organik kompleks seperti protein dan karbohidrat dari tumbuhan dan hewan yang telah mati. Beberapa dari senyawa sederhana yang dihasilkan digunakan oleh dekomposer (Moriber, 1974; Saunder, 1980).
2.2           Faktor Berpengaruh Pada Proses Dekomposisi
Proses dekomposisi menempati kedudukan yang sama dengan komponen lain dalam membentuk ekosistem. Agen utama dalam proses dekomposisi ini biasa kita sebut sebagai dekomposer yang umumnya adalah bakteri dan fungi. Proses ini sangat besar peranannya dalam siklus energi dan rantai makanan pada ekosistem. Terhambatnya proses ini akan berakibat pada terakumulasinya bahan organik yang tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh produsen. Demikian pula ketersediaan nutrien, sebagai produk dekomposisi akan terhambat pasokannya sejalan dengan penghambatan proses dekomposisi. Bila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama maka akan terjadi pula proses pembentukan bahan toksik yang dapat membahayakan kehidupan organisme perairan. Faktor-faktor lingkungan juga sangat berpengaruh pada proses ini. Kondisi lingkungan yang optimal bagi terjadinya proses dekomposisi akan mempercepat terjadinya proses ini. Tersedianya nutrien dan keberadaan oksigen di perairan menjadi faktor utama yang menentukan keberadaan bakteri sebagai pelaku proses dekomposisi ini, meskipun hal ini sangat bergantung pada jenis dekomposernya. Jenis dekomposer khususnya bakteri yang aerob berbeda dengan jenis yang anaerob dalam memanfaatkan oksigen dalam mendukung laju dekomposisi. (Sunarto, 2003)
Faktor-faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap dekomposisi antara lain oksigen, bahan organik dan bakteri sebagai agen utama dekomposisi.

2.2.1       Oksigen
Sumber oksigen dalam perairan dapat diperoleh dari hasil  proses fotosintesis phytoplankton atau tumbuhan hijau dan proses difusi dari udara, serta hasil proses kimiawi dari reaksi-reaksi oksidasi. Keberadaan oksigen diperairan biasanya diukur dalam jumlah oksigen terlarut (dissolved oxygen) yaitu jumlah miligram gas oksigen yang terlarut dalam satu liter air. Untuk penghitungan keperluan oksigen untuk proses-proses biokimia oleh mikroorganisme biasanya digunakan ukuran BOD.
Di perairan umumnya oksigen memiliki distribusi yang tidak merata secara vertikal . Distribusi ini berkaitan dengan kelarutan oksigen yang dipengaruhi oleh temperatur perairan. Kelarutan oksigen bertambah seiring dengan penurunan temperatur perairan, walaupun hubungan ini tidak selamanya berjalan secara linier.

2.2.2       Bahan Organik
Bahan organik merupakan faktor penting dalam proses dekomposisi. Sumber bahan organik bisa berasal dari perairan itu sendiri (autochthonous) maupun disuplai dari ekosistem lain (allochthonous). Bahan-bahan organik di air hadir dalam bentuk makluk hidup dan sisa-sisa organisme (bangkai, humus, debris, dan detritus) baik dalam ukuran partikel besar, kecil dan terlarut. Bahan organik dalam bentuk partikel biasanya dikenal dengan istilah POM (Particulate Organic Matter) sedangkan yang terlarut dikenal dengan DOM (Dissolved Organic Matter). Partikel-partikel besar umumnya dimakan oleh hewan-hewan besar sepert ikan, udang, moluska dan sebagainya, sedangkan hewan-hewan filter feeder memakan partikel-partikel berukuran kecil. Dekomposer seperti bakteri memanfaatkan bahan organik dalam bentuk terlarut.
Input allochthonous datang sebagai campuran dari POM dan DOM. Sesuai dengan namanya POM hadir dalam bentuk partikel tersuspensi dan termasuk didalamnya adalah fitoplankton dan bakteri, tetapi unsur utamanya adalah apa yang kita sebut sebagai detritus yaitu sebuah kata yang mencakup bermacam-macam substansi dan mikroorganisme yang biasanya berhubungan dengan bahan organik mati. (Wilson, 1988). DOM adalah bahan organik terlarut yang sebagian merupakan produk proses dekomposisi dari POM. Secara operasional DOM didefinisikan sebagai bahan organik yang dapat melewati saringan yang memiliki pori yang sangat kecil yaitu 0.5μm atau kurang dari itu (Saunder,1980).
Bahan organik baik yang berasal dari perairan itu sendiri (autochthonous) maupun yang disuplai dari ekosistem lain (allochthonous) akan mengalami dekomposisi oleh dekomposer seperti bakteri atau jamur. Hasil proses dekomposisi ini berupa nutrien anorganik yang selanjutnya dimanfaatkan oleh tumbuhan dan dirubahnya kembali menjadi bahan organik sebagai produksi primer, melalui proses fotosintesis. Melalui proses jaring-jaring makanan bahan organik ini akan diubah kembali menjadi nutrien anorganik. Siklus ini berlangsung terus-menerus sepanjang tidak ada penghambatan terhadap proses-proses yang terjadi.

2.2.3       Bakteri
Bakteri merupakan agen utama proses dekomposisi selain beberapa jenis jamur/fungi. Berdasarkan kebutuhannya terhadap oksigen, kita mengenal dua jenis bakteri yaitu bakteri aerobik dan bakteri anaerobik. Moriber (1974) menyatakan bahwa bakteri aerobik tumbuh pada kondisi tersedia oksigen bebas (molekul-molekul O2). Bakteri ini memainkan peranan penting dalam pengolahan air yang mengandung limbah organik, karena mereka mampu mengoksidasi limbah organik ini melalui proses yang disebut oksidasi aerobik. Bila O2 tidak ada dalam air, bakteri aerobik akan mati. Dilain fihak bakteri anaerobik tidak dapat tumbuh atau membelah diri jika ada oksigen bebas.
Pada beberapa kasus, oksigen bebas bersifat toksik bagi jenis bakteri anaerob dan dapat hidup hanya pada lingkungan bebas oksigen, bakteri tersebut membutuhkan oksigen dalam bentuk selain oksigen bebas dan hal ini diperoleh melalui pemecahan senyawa-senyawa kimia yang mengandung oksigen.
Pada proses reproduksi bakteri terdapat mekanisme keseimbangan antara reproduksi bakteri dengan keberadaan oksigen dan bahan organik atau nutrisinya. Proses reproduksinya dengan membelah diri dari satu sel menjadi dua sel dan seterusnya secara eksponensial, dibatasi oleh kondisi oksigen dan bahan organik, sehingga laju nyapun terhambat atau bahkan terhenti.
2.3           Proses Dekomposisi
Dekomposisi itu sendiri dapat terjadi pada dua kondisi baik aerobik maupun anaerobik. Hal ini berarti bahwa oksigen merupakan faktor yang sangat mendukung bagi proses dekomposisi. Oksigen yang hadir dalam bentuk bebas (molekul-molekul O2) merupakan faktor utama dalam mempengaruhi proses dekomposisi aerobik.
Oksigen merupakan faktor dominan yang mempengaruhi dekomposisi secara aerobik yang mungkin merupakan lanjutan pada prosesan aerob. Proses anaerobik dapat dimulai ketika menerima beban bahan organik atau setelah proses aerobik tidak dapat diteruskan lagi.

Terhentinya proses aerobik pada kondisi bahan organik yang masih banyak tersedia, disebabkan karena keterbatasan atau telah dihabiskannya (exhausted) oksigen untuk proses dekomposisi itu sendiri. Dengan katalain oksigen berperan pada awal proses dekomposisi aerobik dan bakteri aerobik dapat meneruskan mendekomposisi produk yang dihasilkan dalam proses anaerobik.
Bakteri anaerobik dapat segera mengkolonisasi bahan organik yang tidak habis terdekomposisi oleh bakteri aerobik, karena keterbatasan oksigen. Keberadaan oksigen sendiri diharapkan dapat digunakan untuk melanjutkan proses lanjutan terhadap hasil proses dekomposisi anaerobik sehingga produk tersebut tidak berbahaya bagi organisme diperairan.
Sayangnya kedua kondisi ini berada pada area yang tidak sama, sehingga proses dekomposisi aerobik yang memungkinkan sebagai lanjutan dari dekomposisi anaerobik tidak dapat berjalan secara baik. Hal ini karena oksigen pun tidak berada pada daerah yang sama dimana produk anaerob dihasilkan sehingga tidak dapat secara langsung melanjutkannya dengan dekomposisi aerobik. Umumnya kondisi aerobik berada di lapisan atas kolom air sementara kondisi anaerob pada dasar perairan sehingga menyulitkan bagi bakteri aerob untuk menjangkau daerah tersebut karena ketersediaan oksigen yang sangat rendah.
Kondisi demikian yang mengakibatkan terjadinya akumulasi bahan organik hasil dekomposisi anaerobik pada lapisan dasar perairan. Mekanisme alami yang dapat mengurangi beban akumulasi bahan organik di dasar perairan ini adalah proses fisika berupa pembalikan (upwelling) massa air yang akan mengangkut bahan organik didasar kebagian atas perairan sehingga memungkinka proses dekomposisi aerobik terjadi. Proses pembalikan ini sebenarnya bersifat menguntungkan bagi lingkungan perairan itu sendiri, akan tetapi karena bahan organik yang dibawa umumnya bersifat toksik bagi organisme perairan maka pada tahap awal bersifat merugikan.
Baru setelah kegiatan dekomposisi aerobik berjalan baru dapat dihasilkan nutrien anorganik yang dapat dimanfaatkan oleh produser untuk melakuan fotosintesis dan merubahnya kembali menjadi bahan organik.
Produk akhir dari proses dekomposisi aerobik dapat digunakan langsung oleh produser diperairan sedangkan, hasil dekomposisi anaerobik bersifat racun. Produk akhir kedua proses tersebut terhadap bahan organik berupa karbon organik, nitrogen, sulfur dan hidrogen.














BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
1.         Proses dekomposisi adalah proses penghancuran bahan organik mati melalui proses fragmentasi, perubahan struktur fisik dan kegiatan enzim oleh dekomposer dan merubahnya menjadi bahan anorganik.
2.         Proses dekomposisi merupakan salahsatu rantai dalam proses produksi di laut yang mampu menyumbangkan nutrien bagi produser primer di laut.
3.         Proses dekomposisi bahan organik di perairan sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan yang secara langsung mempengaruhi keberadaan bakteri sebagai agen utama dekomposisi di perairan. Faktor-faktor tersebut adalah oksigen, baik dalam bentuk bebas maupun terikat sebagai senyawa-senyawa kimia, bahan organik baik berupa bahan organik dalam bentuk partikel (POM) maupun bahan organik terlarut (DOM), dan bakteri itu sendiri baik jumlah, jenisnya maupun kemampuannya dalam mentoleransi perubahan lingkungan.






















DAFTAR PUSTAKA


Mc. Naughton, S.J. dan L.L. Walf. 1990. Ekologi Umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Moriber, G. 1974. Environmental Science.Allyn and Bacon. Inc. Boston.

Saunder, G.W., 1980. Organic matter and Decomposers. In The Functioning of Freshwater Ecosystem Eds. by E.D. Le Cren and R.H. Lowe-Mc. Connel. Cambridge University Press

Smith, R.L., 1980. Ecology and Field Biology. Harper & Row Publishers. New York.

Tarumingkeng, R.C., 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Sunarto, 2003. Peranan dekomposisi dalam proses produksi pada ekosistem laut. IPB. Bogor