***

<FONT FACE="georgia" color="WHITE"> ...selamat membaca...semoga bermanfaat...

Monday, 30 August 2010

Laporan Lamun

BAB I
PENDAHULUAN




1.1.  LATAR BELAKANG
Menurut Rumimohtarto (2001), Di laut jarang terdapat tumbuhan tingkat tinggi karena berbagai faktor yang berbeda antara darat dan air laut, sehingga produsen utamanya pun berbeda, di darat tumbuhan tinggi berperan sebagai produsen primer sedangkan di laut fitoplankton menjadi produsen primernya, hanya ada beberapa tumbuhan tingkat tinggi yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan laut seperti Mangrove dan lamun
Hampir di semua habitat air laut, kita dapat temukan tiga komunitas yaitu,
  1. Komunitas pelagic perairan terbuka.
  2. Komunitas bentik yang hidup pada dasar perairan.
  3. Komunitas menyusur, dimana dasar air menjadi suatu substrat untuk tumbuh.
Menurut Romimohtarto (2001) Seagrass atau lamun adalah tumbuhan laut yang termasuk tumbuhan tingkat tinggi karena memiliki akar,batang, dan daun. Tumbuhan ini hidup pada substrat yang berpasir dan berbatu. Di  laut seagrass berfungsi sebagai produsen yang mampu memproduksi O2 melalui proses fotosintesis.

1.2.  TUJUAN
Tujuan dari pelaksanaan praktikum Botani Laut tentang Lamun ini adalah :
  1. Mengetahui berbagai macam spesies lamun yang ada di perairan pantai Indonesia.
  2. Mempelajari dan mengetahui morfologi lamun.
  3. Mengidentifikasi lamun yang ada dengan bantuan buku identifikas
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1.    LAMUN
 Lamun hidup terendam di perairan laut. Bagian-bagiannya adalah: rhizome, daun (thalus) dan akar. Lamun hidup di lautan yang dangkal dan biasanya menempel pada substrat yang berlumpur, thalusnya tegak berdiri dengan panjang bisa mencapai satu meter (Romimohtarto,2001). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Lebih dari 52 jenis lamun yang telah ditemukan. Di Indonesia hanya terdapat 7 genus dan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu:
1. Hydrocharitacea ( 9 marga, 35 jenis ) dan
2. Potamogetonaceae (3 marga, 15 jenis).
Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain :
1. Thalassia hemprichii
2. Enhalus acoroides
3. Halophila ovalis
3. Cymodoceae serulata
4. Thallasiadendron ciliatum
(Romimohtarto,  2001).
Lamun banyak di temukan dimana saja dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi, namun lamun banyak sekali di temukan pda barisan kedua setelah mangrove, Lamun umumnya membentuk padang yang luas di dasar laut yang masih dapat di jangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya (Nontji, 1993).
Lamun tidak memiliki stomata tapi memiliki kutikula tipis yang berfungsi untuk menyerap nutrisi dari perairan, semua kegiatan lamun di lakukan dalam keadaan terbenam dalam air, dai system perakarannya hingga daur generatifnya (Romimohtarto,2001).
Tumbuhan ini tersusun dari bagian-bagian yang disebut Rhizome, daun dan akar. Rhizome merupakan batang yang terbenam dan merayap mendatar serta berbuku-buku, dimana pada buku-buku ini tumbuh batang pendek yang dekat ke atas, berdaun dan berbunga serta terdapat juga akar.sistem perkembangbiakanya bersifat khas karena mampu melakukan penyerbukan di dalam air (Nybakken, 1992).
Satu tumbuhan hanya ada bunga jantan saja atau bunga betina saja. Sistem pembiakannya khas karena tumbuhan ini mampu melakukan pembiakan di dalam air (hydrophilous pollination). Selain bunganya, buahnya juga terendam di dalam air. Karena lamun hidup di dalam air, maka bunganya dipolinasi di dalam air melalui bantuan arus. Serbuk sarinya berbentuk seperti benang terdapat padat di dekat air, sehingga mudah terangkut oleh air (Romimohtarto,2001).
Lamun tumbuh bertahun-tahun, rimpangnya tumbuh memanjang dan membentuk pasangan-pasangan daun dan akar baru. Kadang-kadang ia membentuk komunitas yang lebat sehingga merupakan padang lamun (seagrass bed) yang cukup luas. Padang lamun mempunyai produktifitas organik yang sangat tinggi. Di situ terdapat macam-macam biota laut seperti Crustacea, Molusca, cacing dan juga ikan (Romimohtarto,2001).
Di samping sebagai tempat mencari makan dan tempat hidup, padang lamun juga dapat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan gelombang (sebagai peredam gelombang) sehingga perairan di sekitarnya tenang. Hal ini menyebabkan substrat di bawah padang lamun menjadi lebih stabil. Oleh karena itu, padang lamun disukai oleh organisme-organisme yang lain karena digunakan sebagai tempat berlindung bagi larva-larva yang baru menetas dari arus maupun berlindung dari sinar matahari (Romimohtarto,2001).






CIRI – CIRI LAMUN
Tumbuhan lamun memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
  1. Toleransi terhadap kadar garam lingkungan
  2. Tumbuh pada perairan yang selamanya terendam
  3. Mampu bertahan dan mengakar pada lahan dari hempasan ombak dan tekanan arus
  4. Menghasilkan pollinasi hydrophilous ( benang sari yang tahan terhadap kondisi perairan )
  5. Memiliki kutikula sebagai pengganti stomata
  6. Lamun adalah satu - satunya tanaman berbunga yang akarnya berpembuluh dan teradaptasi dengan lingkungan laut. (Nontji, 1993).

Faktor yang mempengaruhi ekosistem lamun

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan lamun secara umum adalah kualitas air, substrat dasar perairan. Kualitas air meliputi temperatur, cahaya, salinitas dan nutrien.
a)      Temperatur
Temperatur merupakan salah satu faktor ekologi perairan yang sangat penting, karena mempengaruhi proses-proses fisiologis lamun, seperti ketersediaan dan penyerapan, nutrien, respirasi dan siklus protein. Zieman (1982) menyatakan bahwa lamun lebih tahan terhadap maningkatnya temperatur dibandingkan dengan alga. Mellors dkk, menemukan keterkaitan antara temperatur dan biomassa lamun, tetapi faktor temperatur ini dapat berakibat merugikan pada proses fotosintesis dan kehidupan apabila terjadi kombinasi antara temperatur dan intensitas yang berlebih (Mellors, 1993).
b)      Cahaya
Larkum (1989) menyatakan bahwa cahaya merupakan faktor yang menentukan penyebaran dan kelimpahan lamun. Intensitas cahaya yang masuk ke dalam kolom air dipengaruhi oleh kecerahan perairan. Semakin bertambah kedalaman suatu perairan berarti intensitas cahaya menurun maka biomassa lamun semakin menurun (Hilman dkk, 1989). Tiap spesies lamun memiliki intensitas cahaya minimum dan maksimum yang dibutuhkan sebagai syarat lulus kehidupan dan faktor pertumbuhan yang optimal (Dahuri, 2001).

c)      Salinitas
Aktivitas tumbuhan dalam berfotosintesis dipengaruhi oleh salinitas air. Laju fotosintesis berkurang hingga mendekati nol pada air destilasi dan air dengan salinitas dua kali salinitas air laut. Faktor utama yang mempengaruhi tingkat salinitas di wilayah estuari adalah suplai air tawar dari muara-muara sungai. pengaruh salinitas bersifat positif bagi pertumbuhan daun lamun muda dimana pertambahan panjang daun meningkat seiring meningkatnya salinitas. Padang lamun di Cairns Harbour Australia dapat hidup pada kisaran salinitas 20‰-50‰ (Dahuri, 2001).

d)      Nutrien
Senyawa organik yang penting bagi lamun diantaranya tersusun oleh unsur-unsur karbon, nitrogen, fosfor. Sumber utama karbon bagi lamun berasal dari sedimen yang diserap oleh akar. Dua puluh lima persen dari karbon yang diserap oleh akar ditransfer ke daun sedangkan sisanya tetap berada di perakaran lamun. Nitrogen merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan lamun, diperoleh melalui akar setelah mengalami fiksasi oleh bakteri. Nitrogen yang dihasilkan dari akar mampu mensuplai 20-50 % nitrogen yang dibutuhkan suatu padang lamun. Fosfor dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di wilayah perakaran lamun dibandingkan dengan di substrat pada kedalaman yang lebih dalam maupun substrat yang tidak ditumbuhi lamun ( Mellors, 1993 ).

e)      Substrat dasar
Karakteristik meliputi jenis substrat dan kandungan nutrien dalam sedimen mampengaruhi bentukakar lamun. Di padang lamun terdapat interaksi antara lamun dengan sedimen dan air, dimana tumbuhan ini berpengaruh terhadap karakteristik kimia serta mikrobiologi sedimen dari produksi detritus, aliran oksigen dari akar dan rimpangnya (Moriaty,1989).

KEBERADAAN DAN FUNGSI LAMUN
Ø      membentuk lingkungan padang lamun yang menjadi salah satu ekosistem terkaya dan paling produktif.
Ø      dapat menjaga dan memelihara stabilitas pantai pesisir dan lingkungan ekosistem estuaria.
Ø      merupakan sumber makanan bagi banyak hewan laut seperti duyung, penyu, ikan, dan bulu babi.
Ø      merupakan tempat tinggal dan tempat berlindung banyak jenis hewan dan tumbuhan dari hewan pemangsa.
Ø      merupakan komoditas yang banyak digunakan sebagai bahan dasar keranjang, pengisi kasur, atap rumbia, pupuk, penyaring limbah, bahan kertas dan pakan ternak (Nontji, 1993).
MORFOLOGI LAMUN
Secara morfologis lamun terdiri dari akar, daun dan rhizoma. Akar pada lamun tumbuh pada buku-buku rhizoma. Rhizoma adalah batang yang terbenam dan merayap secara mendatar (Nonjti,1993). Ditambahkan lagi oleh Nybakken (1992), kebanyakan spesies lamun secara morfologis hampir serupa yaitu, mempunyai daun-daun panjang yang tipis dan mempunyai saluran air (kutikula).
a.       Akar
Akarnya muncul dari permukaan yang lebih rendah daripada rhizoma dan menunjukkan sejumlah adaptasi tertentu pada lingkungan perairan (Tomascik et al. 1997). Struktur perakarannya memiliki perbedaan antara satu dan lainnya. Pada beberapa spesies memiliki akar yang lemah, berambut dan memiliki struktur diameter yang kecil. Sedangkan pada spesies lainnya akarnya ada yang kuat dan berkayu.
Fungsi akar lamun adalah untuk mengabsorbsi nutrien dari kolom air dan bertindak sebagai penyimpanan untuk fotosintesa (Tomascik, 1997)
b.      Rhizoma dan batang
Struktur rhizoma dan batangnya sangat bervariasi di antara jenis-jenis lamun, sebagai susunan ikatan pembuluh pada stele (Den Hartog, 1970). Rhizoma bersama-sama dengan akar, menancapkan lamun pada substrat. Rhizoma biasanya terkubur di bawah sedimen dan membentuk jaringan luar (Tomascik, 1997)
c.       Daun
Seperti pada monokotil lainnya, daun-daunnya diproduksi dari meristem dasar yang terletak di bagian atas rhizoma dan pada rantingnya. Hal yang unik pada daun lamun adalah dengan tidak adanya stomata dan terlihatnya kutikula yang tipis. Kutikula berfungsi untuk menyerap zat hara, walaupun jumlahnya lebih sedikit dari yang diserap oleh akar dan batangnya (Tomascik,1997).










BAB III
METODOLOGI PENGAMATAN

3.1.   Waktu Dan Tempat
Hari/tanggal                        : 18 November 2008
Waktu                                : 13.45 - selesai
Tempat                               : Laboratorium terpadu kampus Ilmu Kelautan

3.2. Alat dan Bahan
      3.2.1.  Alat
- Salinometer         - Mikroskop                 - PH meter
- Sedwijk rafter     - Termometer               - 2 akuarium
3.2.2.Bahan
·       Beberapa jenis lamun
·       Bahan isian akuarium
3.3 Cara Kerja
            - Perhatikan bentuk morfologi dari sampel lamun yang di berikan
            - Buatlah gambar dan tentukan cirri-cirinya
            - Klasifikasikanlah ke dalam sistem taksonomi
·       Mengamati bentuk daun, buah dan bunga dari tanaman mangrove
·       Mengamati warna dari tiap-tiap tanaman lamun
·       Menggambar bagian-bagian yang diamati
·       Mencocokan dengan buku identifikasi lamun untuk mengetahui jenisnya
            - Catat semua pada lembar laporan sementara




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1. Hasil Pengamatan
a.       Cymodocea serrulata
            


           

Taksonomi :
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Anthophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Helobiae
Famili               : Cymodoceaceae
Genus               : Cymodocea
Spesies             : Cymodocea serrulata
Ciri – ciri morfologi dari Cymodocea serrulata adalah :
1.      Tepi daun bergerigi / seperti gergaji.
2.      Akar tiap nodus banyak dan bercabang.
3.      Tulang daun sejajar.
4.      Lebar daun dari samping ke samping + 1 cm.
5.      Jarak antar nodus + 2 cm.
6.      Jumlah tulang daun pada sehelai daun antara 13 – 17 buah.
7.      Tiap nodus hanya ada satu tegakan.
8.      Satu tegakan terdiri dari 2 – 3 helai daun.
(Moriaty, 1989)

b.      Cymodocea rotundata





 
                                                                                         




 
 

    
Taksonomi :
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Anthophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Helobiae
Famili               : Cymodoceaceae
Genus               : Cymodocea       
Spesies             : Cymodocea rotundata
Cymodoceae rotundata merupakan jenis lamun dengan bentuk daun seperti pita tipis yang panjang. Akar tumbuh pada bagian rhizoma yang menjalar mendatar dan memanjang, batang berwarna coklat. Tmbuh-tumbuhan ini terdapat tepat di bawah air surut rata-rata pada pasang surut purnama pada pantai pasir dan pantai lumpuran.(Nybakken,1992).
Ciri – ciri morfologi dari Cymodocea rotundata adalah :
1.      Tepi daun halus atau licin, tidak bergerigi.
2.      Akar pada tiap nodus terdiri dari 2 – 3 helai.
3.      Akar tidak bercabang dan tidak mempunyai rambut akar.
4.      Tulang daun sejajar.
5.      Jumlah tulang daun pada selembar daun adalah + 9 – 15 buah.
6.      Lebar daun dari samping ke samping + 4 mm.
7.      Jarak antar nodus + 1 cm.
8.      Tiap nodus hanya ada satu tegakan.
9.      Tiap tegakan terdiri dari 3 – 4 helai daun.
(Nybakken, 1992).

c.       Enhalus acoroides
Keterangan gambar :
1.      Daun
2.      Rambut – rambut kaku
3.      Rimpang/rhizoma
4.      Akar
 
                                                                       1
                                                      
                                                                       2

                                                                          3
                                                                        
                                                                          4
Taksonomi :
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Anthophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Helobiae
Famili               : Hydrocharitaceae
Genus               : Enhalus
Spesies             : Enhalus acoroides
Jenis lamun ini disebut juga dengan lamun tropika. Jenis lamun ini memiliki akar yang kuat dan diselimuti oleh benang-benang hitam yang kaku. Daun mempunyai tulang daun, dan terdapat dalam pasangan pelepah bonggol. Pada bagian rhizoma terdapat semacam rambut yang merupakan akar dan akar lainnya yang menjulur ke bawah berwarna putih dan kaku. Tumbuhan ini terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasang surut purnama pada dasar pasir lumpuran.(Moriaty,1989).
Ciri – ciri morfologi dari Enhalus acoroides adalah :
1.      Bentuk fisiknya paling besar dibanding spesies lamun yang lain.
2.      Daun berwarna hijau pekat.
3.      Daunnya panjang dan kebar seperti sabuk.
4.      Lebar daun + 3 cm.
5.      Panjang daun berkisar antara + 30 – 150 cm.
6.      Rimpangnya berdiameter lebih dari 1 cm.
(Moriaty, 1989).

d.      Halophila ovalis
Keterangan gambar :
1.      Daun
2.      Rimpang
3.      Akar
 
                        1
       

             2

            3                                 

Taksonomi :
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Anthophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Helobiae
Famili               : Hydrocharitaceae
Genus               : Halophila
Spesies             : Halophila ovalis
Ciri – ciri morfologi dari Halophila ovalis adalah :
1)      Tiap nodus terdiri dari 2 tegakan.
2)      Mempunyai akar tunggal di tiap nodus.
3)      Tulang daun menyirip dan berjumlah + 10 – 25 pasang.
4)      Jarak antar nodus + 1,5 cm.
5)      Panjang helai daun + 10 – 40 mm.
6)      Panjang tangkai daun yaitu + 3 cm.
(Romimohtarto, 2001)






e.      
 
1
 
Syringodium isoetifolium








 





Taksonomi :
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Anthophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Helobiae
Famili               : Potamogetonaceae
Genus               : Syringodium
Spesies             : Syringodium isoetifolium


Ciri – ciri morfologi pada Syringodium isoetifolium adalah :
1.      Daun berbentuk silindris dan panjang.
2.      Akar tiap nodus majemuk dan bercabang.
3.      Tangkai daun berbuku – buku.
4.      Tiap tangkai daun terdiri dari 2 – 3 helai daun.
5.      Panjang tangkai daun + 6 – 7 cm.
6.      Jarak antar nodus + 2 cm.
7.      Rimpangnya tidak berbuku – buku.
(Romimohtarto, 2001)







f.       
1
 
Halodule uninervis
                                                                                                                        


 

2
 
                                                     
                                                          
3
 
2
                                                                                                                


Kingdom          : Plantae
Divisi                : Anthophyta
Kelas               : Angiospermae
Ordo                : Helobiae
Famili               : Cymodoceaceae
Genus               : Halodule            
Spesies             : Halodule uninervis

Ciri – ciri morfologi dari Halodule uninervis adalah :
1.      Tiap nodus hanya terdiri dari satu tegakan.
2.      Tiap tangkai daun terdiri dari 1 sampai 2 helai daun.
3.      Tiap nodus berakar tunggal dan banyak. Tidak bercabang.
4.      Rimpangnya berbuku – buku.
5.      Jarak antar nodus + 2 cm.
6.      Ujung daun merbentuk gelombang menyerupai huruf W.
(Nontji, 1993)










            4.2.3.2 Pembahasan
                        Hal pertama yang di amati adalah PH air di dalam akuarium yang merupakan air laut dengan menggunakan PHmeter,karena air laut di akuarium bersifat tetap ( tidak dipengaruhi arus,gelombang,dan pasang surut dalam kuantitas serta kualitas yang besar ) maka PH air tersebut cenderung tetap yaitu 8.
                        Salinitas air laut tersebut juga harus diukur dengan menggunakan salinometer, untuk menggunakan alat tersebut harus dengan mengikuti instruksi asisten agar tidak terjadi esalahan perhitungan, sama hal nya dengan PH di atas, karena air bersifat tetap maka salinitasnya pun cenderung stabil yaitu sekitar 31
                        Sedwijk rafter , alat untuk mengukur jumlah plankton rata-rata dalam suatu perairan,dengan mengambil sample sebanyak 1mL lalu perhatikan sample dengan pengamatan dibawah mikroskop, perhatikan ada berapa plankton kemudian konversikan ke dalam volume akuarium, pada hasil dapat diperkirakan terdapat 3000 individu/liter
                        Suhu, seperti biasa dengan menggunakan thermometer, dengan kondisi air yang tidak berubah dan berada di dalam ruangan maka suhu air pun bersifat stabil, yaitu sekitar 28oC
                        Pada akuarium A terdapat 4 ikan dan lamun, sedangkan dalam akuarium B terdapat 5 jenis ikanbahkan terdapat beberapa ikan yang mati,keong,kerang dan juga lamun, melihat padatnya ekosistem di akuarium B memungkinkan individu untuk mati lebih cepat karena pasokan oksigen dari lamun dan oksigen terlarut di air sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuni ekosistem, apalagi di dalam akuarium B terdapat kerang yang bernapas dengan oksigen yang berasal sepenuhnya dari fotosintesis lamun.
                                                           





BAB V
PENUTUP




KESIMPULAN
·        Lamun adalah tumbuhan laut yang termasuk tumbuhan tingkat tinggi karena memiliki akar,batang, dan daun. Tumbuhan ini hidup pada substrat yang berpasir dan berbatu. Di  laut seagrass berfungsi sebagai produsen yang mampu memproduksi O2 melalui proses fotosintesis
·        Individu dapat hidup secara layak jika habitatnya memiliki karakteristik yang cocok untuk kehidupannya.
·        Sebaiknya setiap habitat memiliki produsen Oksigen yang memadai agaer tercipta kehidupan yang sehat di tiap ekosistem


SARAN

1.       Para Praktikan hendaknya memperhatikan penjelasan asister pada pelaksanaan praktikum.
2.       Diharapkan kepada semua mahasiswa ( praktikan ) agar benar – benar serius, dan memperhatikan prosedur praktukum yang telah dibuat, agar praktukum dapat berjalan lancar sesuai dengan apa yang diinginkan.
3.       Hendaknya praktikan tidak bercanda saat praktikum berlangsung.
4.       Asisten hendaknya membantu Praktikan dalam memberi penjelasan tentang klasifikasi, identifikasi dan membedakan ciri – ciri dari tumbuhan lamun tersebut.




DAFTAR  PUSTAKA


Dahuri, Rokhim, Dr. Ir. H. M.S, dkk. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta :  PT.Pradnya Pramita.

Mellor J. E., HMrsh, and R. G 1993. Intra-annual Changes in Seagrass standing Crops Grenn Island Northern Quensland, Sidney :  J. Mar Freshwater. 44 pp.

Moriaty, D. J W. and P. I. Boon. 1989. Interactive of Seagrasses with Sediment and Water in Larkum. A W. D, A. J McComb and S. A. Sepherd (eds). Biologi of Seagrasses. Elsevier. Amsterdam p500-535.

Nontji,A.1993. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.
                 
Nybakken,J.W.1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Romimohtarto,K dan Juwana,Sri.2001. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Jakarta : Djambatan.

Tomascik,et.al.1997. The Ecology of the Indonesian Sea part 2. Singapore : Peripilus Edition.

3 comments:

  1. ehmmmm...kebetulan penelitianku tentang lamun...
    boleh tanya, kira2 spesies enhalus acoroides itu bisa tumbuh di daerah dengan kedalaman sampe berapa yah?
    terima kasih
    ^_^

    ReplyDelete
  2. kira2 2-5 meter masih bs tumbuh... tergantung kecerahan perairan sama sedimennya.... terima kasih yaa

    ReplyDelete
  3. mau tanya gan..
    kalau utk jenis Cymodocea rotundata,daun muda atau daun tuanya tumbuh di kisaran berapa-berapa ya?
    kebetulan penelitian saya tentang pertumbuhan daun cymodocea rotundata.
    mohon bantuannya :)
    salam kenal

    ReplyDelete

aioo... kritik, saran, dan tanggapan diperlukaann... tapi yang positive dan menuju ke arah yang lebih baikk yaa... salam kenal..